RADARTUBAN - Di saat orang tua siswa berebut memasukan anaknya di sejumlah sekolah yang dianggap unggulan.
Nasib ironis dialami SDN Perunggahan Kulon 9. Pada tahun ajaran 2025-2026 ini, lembaga pendidikan dasar terletak di Dusun Mojokopek, Desa Perunggahan Kulon, Kecamatan Semanding itu hanya mendapat tiga murid.
Bahkan dibanding nama sekolah saja masih: SDN Perunggahan Kulon 9, sementara siswa barunya hanya 3.
Tidak seperti sekolah lain yang berada di tengah permukiman warga, letak SDN Perunggahan Kulon 9 ini jauh dari keramaian.
Di atas perbukitan, di tengah hamparan ladang jagung milik warga. Sepi. Dan itulah kesan pertama memasuki halaman sekolah ini.
Ketika puluhan, bahkan ratusan siswa di SDN lain menjalani MPLS dengan penuh keseruan dan keceriaan di halaman sekolah masing-masing.
Kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah di SDN Perunggahan Kulon 9 ini cukup dilaksanakan di ruang kelas. Pasalnya, hanya tiga siswa yang mendaftar di sekolah tersebut.
Layaknya kelas privat. Meski demikian, ketiganya tetap ceria mengikuti kegiatan hari pertama masuk sekolah tersebut.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah SDN Prunggahan Kulon 9, Achmad Sugiantoro mengatakan, meski hanya diikuti tiga murid baru, MPLS tetap dilaksanakan selama lima hari—sebagaimana aturan yang ditetapkan.
‘’Meski kegiatannya tidak sebanyak sekolah lain dengan jumlah murid puluhan, kami tetap menjadwalkan rangkaian kegiatan selama masa MPLS ini. Kegiatan disesuaikan dengan kondisi siswa kami, tidak mungkin bisa melakukan kegiatan berkelompok jika siswa barunya saja hanya tiga anak,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Sugiantoro mengatakan, meski hanya ada tiga siswa yang terdaftar secara resmi dalam data pokok pendidikan (dapodik), namun ada dua anak lain yang dititipkan sementara sembari menuggu cukup umur.
Lebih lanjut, Plt kepala sekolah yang baru menjabat selama tiga bulan itu mengungkapkan, fenomena kekurangan murid di SDN Perunggahan Kulon 9 ini sudah berlangsung lama. Bahkan, dari jenjang kelas 1 hingga 6 hanya ada 31 siswa.
‘’Memang banyak rumah di sekitar sini (SDN Prunggahan Kulon 9, Red). Namun jumlah anak usia masuk sekolahnya masih sedikit. Bahkan, tiga siswa baru kelas 1 ini pun tidak dari desa sini, tapi dari desa tetangga,’’ ujarnya.
Kepala sekolah definitif di SDN Jadi 3 itu menambahkan, selain faktor minimnya anak usia dini, juga letak geografis yang tidak mendukung keberadaan SDN Perunggahan Kulon 9.
‘’Meski dibilang sedikit mendekati kota, tapi sekolah ini letaknya di perbukitan dan dekat ladang. Perkampungan pun tidak terlalu padat seperti di lokasi sekolah lainnya, sehingga tidak heran jika siswanya sedikit. Tapi alhamdulillah sedikit demi sedikit orang tua mulai mau mendorong anak-anak mereka untuk bersekolah meski jaraknya antardesa,’’ katanya.
Sementara itu, Salsabila, salah satu murid baru yang mengikuti MPLS mengaku senang ketika dirinya mulai bersekolah di jenjang SD meski hanya memiliki dua orang teman seangkatan.
‘’Senang bisa sekolah dan punya teman baru, tadi berangkat diantar ibu,” ujarnya malu-malu. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama