RADARTUBAN- Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly, menekankan pentingnya penerapan kurikulum kecerdasan buatan (AI) dan pemrograman (koding) di lingkungan pesantren.
Ia menilai, langkah tersebut krusial untuk mencegah ketimpangan kompetensi digital di masa depan.
"Pemerintah tidak boleh mengabaikan lembaga pendidikan pesantren. Jika kurikulum AI dan koding hanya diterapkan di sekolah umum, maka akan terjadi kesenjangan kompetensi digital antar generasi mendatang," ujar Andi saat ditemui di Jakarta, Rabu (6/8).
Menurutnya, pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis keislaman memiliki potensi besar untuk turut andil dalam transformasi pendidikan digital.
Ia menilai pesantren bisa menjadi pusat pengembangan teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal.
Andi juga mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Agama (Kemenag) untuk segera menyusun peta jalan integrasi kurikulum AI dan koding ke dalam sistem pendidikan pesantren.
"Santri hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Mereka harus dibekali tidak hanya dengan ilmu keagamaan, tetapi juga dengan keterampilan abad 21. AI dan koding merupakan bahasa baru dalam dunia kerja dan ilmu pengetahuan global. Jika tidak disiapkan sejak dini, kita akan kehilangan momentum," tegasnya.
Ia menyarankan agar proses integrasi dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan konteks pesantren.
Selain itu, pelatihan bagi tenaga pendidik serta penyediaan infrastruktur teknologi juga dinilai sebagai prasyarat penting.
"Revolusi digital tidak boleh meninggalkan pesantren. Pemerintah harus memastikan semua anak bangsa, termasuk para santri, memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk berkembang di era teknologi ini," pungkas Andi Muawiyah Ramly. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni