RADARTUBAN – Kritik tajam terhadap sistem pendidikan nasional disampaikan oleh Hendra Kwee, Ph.D., fisikawan sekaligus pendidik, dalam podcast Endgame yang tayang di YouTube Gita Wirjawan pada Rabu (24/9).
Dia menilai reformasi fundamental sangat mendesak dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM), demi mengejar produktivitas dan daya saing global bangsa.
Kualitas pendidikan sangat bergantung pada mutu tenaga pengajar. Saat ini, kesenjangan kesejahteraan guru di Indonesia dengan negara maju seperti Singapura dinilai terlalu lebar.
Guru di negeri jiran digaji hingga puluhan kali lipat lebih tinggi, sehingga mampu menarik talenta terbaik bangsa mereka.
Sebaliknya, di Indonesia, banyak lulusan unggul lebih memilih bekerja di sektor korporasi karena tawaran gaji yang jauh lebih besar.
Tanpa investasi serius pada peningkatan kesejahteraan guru, menurutnya, mustahil target menghasilkan lulusan STEM dalam jumlah besar bisa tercapai.
"Jika kita ingin serius menarik talenta terbaik untuk menjadi guru, mustahil kita bisa melakukannya dengan kompensasi dua sampai tiga juta per bulan. Bandingkan dengan negara maju di Asia yang menggaji guru berkualitas puluhan juta. Ini bukan sekadar gaji, ini adalah investasi strategis pada masa depan bangsa," ujar Hendra.
Selain itu, budaya akademik yang cenderung santai juga menjadi sorotan.
Hendra menilai etos belajar siswa di Indonesia masih kurang kompetitif dibandingkan negara pesaing.
Sistem pendidikan pun masih terlalu menekankan hafalan dan administrasi ketimbang penguasaan ilmu serta pengembangan pola pikir kritis.
Padahal, pengajar seharusnya berani mengakui keterbatasan pengetahuan mereka agar dapat memicu rasa ingin tahu siswa.
Dengan begitu, proses belajar bisa mendorong eksplorasi dan inovasi, bukan sekadar memenuhi formalitas kurikulum.
"Sayangnya, ada budaya akademik yang terlalu santai, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ketika negara lain berjuang mati-matian, kita masih berkutat dengan formalitas dan 'paperwork', mematikan semangat berpikir kritis dan eksplorasi pada murid," ungkapnya.
Pentingnya penguatan STEM, terletak pada perannya dalam mendorong produktivitas nasional.
Jika fokus ini tidak ditingkatkan, Indonesia akan kesulitan naik ke rantai nilai global dan tetap berada pada posisi sebagai produsen dasar.
Sementara negara seperti Tiongkok dan India telah berhasil melahirkan jutaan lulusan STEM setiap tahun.
Menurutnya, investasi pendidikan memerlukan perencanaan jangka panjang karena hasil baru akan terlihat dalam dua hingga tiga dekade.
Hendra juga menyoroti perlunya transformasi budaya akademik di tingkat universitas.
Menurutnya, kepemimpinan perguruan tinggi harus terbebas dari belenggu politik dan birokrasi agar bisa lebih terbuka dalam merekrut pengajar maupun mahasiswa terbaik, termasuk dari luar negeri.
Dengan begitu, kualitas akademik bisa ditingkatkan melalui pertukaran ide dan kompetisi sehat.
Orientasi pendidikan seharusnya tidak lagi berhenti pada pencapaian administratif atau sekadar gelar, melainkan pada keberhasilan lulusan dalam menghadapi dunia kerja.
Jika investasi terhadap guru berkualitas tidak menjadi prioritas dan sistem pendidikan gagal bertransformasi, maka bonus demografi yang dimiliki Indonesia dikhawatirkan akan terbuang sia-sia.
Generasi muda yang seharusnya menjadi motor inovasi justru bisa kehilangan daya saing di kancah global. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama