RADARTUBAN – Ribuan peserta harus gigit jari. Hanya 484 siswa terbaik dari seluruh Indonesia yang berhasil menembus babak nasional Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025.
Ajang adu otak dan inovasi bertema “Islam dan Teknologi Digital” ini menjadi panggung besar bagi talenta muda madrasah untuk unjuk gigi di level nasional.
OMI tingkat provinsi yang digelar pada 2–3 Oktober 2025 berlangsung superketat.
Sebanyak 15.474 peserta dari berbagai daerah bersaing di 555 titik lokasi ujian secara serentak. Tak ada toleransi bagi peserta setengah matang. Hanya yang terbaik yang bisa melangkah ke tahap puncak.
Desain Besar Pembinaan Talenta Nasional
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Suyitno menyebut OMI sebagai ajang “holding” dari berbagai kompetisi madrasah sebelumnya.
“Kalau dulu ajang sains dan riset madrasah masih terpisah, sekarang semua disatukan lewat OMI. Ini bagian dari desain besar pembinaan talenta nasional,” ujar Suyitno dilansir dari laman kemenag.go.id.
Suyitno menegaskan, integrasi kompetisi ini selaras dengan semangat Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional (DBMTN).
Regulasi ini menargetkan lahirnya SDM unggul berdaya saing global—tak cuma di sains dan riset, tapi juga seni, budaya, dan olahraga.
“Kita ingin pembibitan dan penguatan talenta nasional dilakukan secara serius dan berkelanjutan,” tandasnya.
Pendaftar Tembus 204.222 Siswa
Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khodijah menambahkan, minat siswa mengikuti OMI perdana ini sangat tinggi. Dari 204.222 pendaftar, sebanyak 202.117 peserta lolos verifikasi dan bertarung di tingkat kabupaten/kota.
Setelah proses seleksi berlapis, hanya 15.474 peserta yang masuk ke babak provinsi, dan akhirnya 484 siswa terbaik berhak ke nasional.
“Seleksi ini bukan formalitas. Tes dilakukan berbasis komputer (CBT) dan berlangsung ketat. Jadi yang lolos benar-benar siswa dengan kompetensi unggul,” tegas Nyayu.
Penyatuan Dua Ajang Besar
OMI sendiri lahir dari penyatuan dua ajang besar: Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang sudah berjalan sejak 2012 dan Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) yang mulai pada 2018.
Tahun ini, OMI mengusung tema besar “Islam dan Teknologi Digital: Inovasi Sains untuk Generasi Indonesia Maju dan Berdaya Saing Global.”
Babak nasional OMI 2025 akan digelar 10–14 November 2025 secara offline di provinsi tuan rumah yang telah ditentukan.
Ribuan siswa lainnya dipastikan hanya bisa menonton dari pinggir arena. Pengumuman terkait babak nasional bisa dicek di website https://omi.kemenag.go.id.
“Ajang ini bukan cuma lomba. Ini investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem sains dan inovasi di madrasah,” pungkas Nyayu. (*)
Editor : Amin Fauzie