Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Pabrik Tenaga Kerja! Anies Baswedan Ungkap Misi Sejati Pendidikan untuk Melahirkan Manusia Unggul

Imanda Najwa Kirana Dewi • Selasa, 14 Oktober 2025 | 14:10 WIB

 

Anies Baswedan menyoroti pendidikan sebagai sarana membentuk manusia berkarakter, bukan alat pasar kerja.
Anies Baswedan menyoroti pendidikan sebagai sarana membentuk manusia berkarakter, bukan alat pasar kerja.

RADARTUBAN – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali mengupas pandangannya yang tajam dan reflektif tentang makna pendidikan, politik, dan demokrasi Indonesia.

Dalam diskusi yang ditayangkan di kanal YouTube Makna Talks, dia menegaskan bahwa misi utama negara seharusnya bukan sekadar menyiapkan tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang berkualitas, kritis, dan berkarakter.

“Saya tidak menempatkan manusia sebagai sumber daya. Karena ketika manusia dianggap sebagai sumber daya, maka seluruh program pendidikan hanya akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Anies dalam perbincangan tersebut.

Mengembangkan Potensi, Bukan Sekadar Tenaga Kerja, Anies menekankan, fungsi sejati pendidikan adalah mengembangkan potensi manusia.

Pendidikan harus melahirkan individu yang berpikir kritis dan memiliki idealisme, bukan sekadar sarjana yang menjual ilmunya kepada penawar tertinggi.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang pernah mengalami over supply sarjana pada 1980-an.

Namun, ketika investasi besar masuk, tenaga kerja terdidik itu dengan mudah beralih menjadi manajer karena daya adaptasi mereka tinggi.

“Itu bukti bahwa manusia terdidik selalu fleksibel,” ujarnya.

Saat menjabat Rektor Universitas Paramadina, Anies menerapkan kebijakan pro-kesetaraan, termasuk menanggung biaya transportasi dan seleksi bagi calon mahasiswa beasiswa dari berbagai daerah.

Langkah ini, katanya, untuk memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama mendapatkan pendidikan berkualitas.

Di luar sosoknya yang dikenal akademis dan berwibawa, Anies ternyata menyimpan kisah masa kecil yang penuh kenakalan.

Ia tumbuh di keluarga pendidik dan aktivis, di mana rumahnya sering menjadi tempat diskusi publik. Namun, semasa SD, ia mengaku pernah menjadi “trouble maker” dan beberapa kali terlibat perkelahian.

“Saya pernah panik karena pertama kali mukul teman sampai mimisan,” kenangnya sambil tertawa.

Orang tuanya pun menggunakan cara unik untuk menanamkan cinta membaca, Anies hanya boleh naik sepeda ke jalan aspal jika menuju perpustakaan.

Sebuah aturan yang diam-diam membentuk karakternya sebagai pembelajar seumur hidup.

Bicara politik, Anies memandangnya sebagai perpanjangan misi kemanusiaan dan kebijakan publik (policy making).

Baginya, politik bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi wadah untuk terus memperjuangkan peningkatan kualitas manusia baik melalui kebijakan negara maupun kegiatan sosial.

Ia menegaskan, demokrasi hanya bisa sehat jika ada ruang bagi oposisi, kebebasan berpendapat, dan pembagian kekuasaan yang jelas.

“Ketika debatnya soal kebijakan, I love it,” kata Anies, menegaskan bahwa kritik bukan ancaman, melainkan bagian dari pendidikan publik.

Salah satu inisiatifnya yang mencerminkan prinsip itu adalah program “Desak Anies”, forum terbuka untuk pemilih agar memahami pikiran dan sikapnya secara langsung.

“Itu bentuk penghormatan saya kepada pemilih,” ujarnya. Ketika membahas soal kekalahan politik, Anies berbicara dengan tenang.

“Dalam pertandingan, tidak semua bisa menang. Yang penting, semua dijalankan secara fair play dan sportif,” katanya.

Menutup diskusi, Anies menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap meluasnya pesimisme di tengah masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas fondasi optimisme tinggi, bahkan ketika 95% rakyatnya dulu buta huruf.

“Kita boleh kritis terhadap pemerintah, tapi jangan hancurkan percaya diri bangsa ini,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh pihak, terutama mereka yang memiliki mikrofon publik, untuk menjaga semangat positif bangsa.

“Cintailah Indonesia tanpa syarat unconditional love. Karena bangsa ini berdiri bukan dengan rasa takut, tapi dengan keyakinan,” tutup Anies penuh makna. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tenaga kerja #pendidikan #anies baswedan #manusia berkualitas