Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pendidikan Bukan Sekadar Gelar: Pentingnya Adaptasi Teknologi, Budaya, dan Visi Global

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:10 WIB

 

Ilustrasi acara kelulusan setelah menempuh pendidikan.
Ilustrasi acara kelulusan setelah menempuh pendidikan.

RADARTUBAN - Pendidikan adalah fondasi utama dalam membentuk masa depan individu dan masyarakat.

Namun, apa sebenarnya tujuan utama sekolah dan pendidikan saat ini?

Diskusi yang membahas pendidikan dari sudut pandang global bersama Sanjay Sarma, seorang CEO, President, and Dean of the Asia School of Business dalam podcast di kanal YouTube Gita Wirjawan pada Rabu (14/8/24).

Terungkap bahwa pendidikan tidak hanya sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, keterampilan berpikir kritis, dan kapasitas untuk memimpin di dunia yang terus berubah.

Pendidikan idealnya menumbuhkan rasa ingin tahu mendalam yang menjadi pendorong utama kreativitas dan inovasi.

"Rasa ingin tahu adalah bahan bakar terpenting dalam pendidikan," ujar Sanjay Sarma, ia juga menegaskan kembali pentingnya menanamkan rasa ingin tahu sejak dini.

Sangat penting untuk menyesuaikan sistem pendidikan agar mampu memfasilitasi pembelajaran yang tidak terbatas hanya dalam ruang kelas, melainkan juga melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung (action learning).

Hal ini relevan dalam konteks global, khususnya di Asia Tenggara, di mana pemimpin masa depan dituntut untuk memiliki wawasan luas dan kemampuan adaptasi yang tinggi.

Bahasa Inggris dipandang sebagai alat penting dalam membuka peluang di kancah internasional, khususnya bagi para calon pemimpin bisnis.

Meski demikian, keberagaman budaya dan sistem pendidikan yang inklusif juga menjadi kunci untuk menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga mampu memahami dinamika sosial yang kompleks.

Selain itu, peran kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan menjadi sangat menonjol. AI menawarkan potensi besar dalam mendemokratisasi akses pembelajaran dan meningkatkan presisi serta efektivitas metode pengajaran.

Meski demikian, AI masih merupakan alat yang perlu dikembangkan dan diintegrasikan secara bijak, agar tidak hanya menjadi sekadar "halusinasi" teknologi, melainkan benar-benar memberdayakan pelajar.

Namun, mengubah paradigma pendidikan menuju sistem yang lebih dinamis, relevan, dan memupuk kepemimpinan adalah tantangan utama yang harus dijawab oleh para pemangku kepentingan pendidikan di seluruh dunia.

Kunci utama suksesnya reformasi pendidikan terdapat pada adaptasi dengan perkembangan teknologi, budaya lokal, dan kebutuhan global.

Pendidikan bukan lagi tentang selembar ijazah dan memperoleh gelar, melainkan tentang mempersiapkan diri menghadapi tantangan kompleks dengan kreativitas, empati, dan keterampilan pemecahan masalah yang mumpuni.

Oleh karena itu, pendidikan harus dipandang sebagai laboratorium eksperimen pembentukan masa depan yang lebih baik.

Di mana adaptasi terhadap teknologi, budaya lokal, dan kebutuhan global adalah kunci keberhasilan reformasi pendidikan.

Dengan demikian, Sanjay Sarma menyarankan agar seluruh masyarakat untuk melihat pendidikan sebagai perjalanan seumur hidup, bukan hanya sekadar tujuan akhir. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#AI #kecerdasan buatan #perubahan global #pendidikan #teknologi #pelestarian budaya #masa depan