RADARTUBAN — Bagi Zaskia Adya Mecca, jadi orang tua di era digital bukan soal perang melawan gadget.
Tapi soal hadir di tengah anak-anak yang lahir di dunia serba layar — tanpa kehilangan nilai keluarga yang hangat.
“Bukan tentang melarang, tapi bagaimana anak tahu batasnya,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang sempat viral.
Gen Alpha dan Dunia yang Sudah Online Sejak Lahir
Generasi Alpha — anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 — hidup dalam realitas baru: dari mainan digital, YouTube Kids, sampai AI tutor di tablet.
Bagi sebagian orang tua, semua itu bikin khawatir. Tapi buat Zaskia, teknologi bukan musuh, asal orang tua tahu cara ngemongnya.
“Kalau kita keras melarang, anak justru makin penasaran. Tapi kalau kita dampingi, mereka belajar tanggung jawab,” kata istri sutradara Hanung Bramantyo itu.
Bukan teori kosong. Zaskia mempraktikkan keseimbangan itu di rumah — antara layar dan kebersamaan, antara dunia digital dan dunia nyata.
Parenting Zaskia: Gadget Nggak Diharamkan, Tapi Diarahkan
Lewat unggahan media sosialnya, Zaskia sering berbagi potret kehidupan sehari-hari yang sederhana tapi sarat makna.
Perempuan kelahiran Jakarta 38 silam itu memasak bareng anak, membaca buku bersama, atau sekadar ngobrol santai tanpa distraksi layar.
Namun, bukan berarti Zaskia menutup pintu pada dunia digital. Gadget justru jadi media belajar — menonton video edukatif, bikin konten kreatif, bahkan belajar bahasa lewat aplikasi.
“Selama kita tahu apa yang mereka tonton, dan ada waktu khusus tanpa layar, itu masih sehat,” ujar alumni Universitas Paramadina itu.
Di rumah Zaskia, ada jam screen-free setiap hari. Semua harus ikut — termasuk orang tuanya. Tak ada yang memegang gawai. Hanya tawa, obrolan, dan interaksi nyata.
Mengasah Empati, Bukan Sekadar Skill Digital
Bagi Zaskia, generasi pintar digital belum tentu punya empati sosial. “Aku mau anak-anakku ngerti perasaan orang lain, bukan cuma ngerti teknologi,” katanya.
Setelah menonton film, ia kerap mengajak anak berdiskusi: “Menurut kamu, kenapa tokohnya sedih?”
Pertanyaan sederhana, tapi justru di situ benih empati ditanam. Anak-anak belajar melihat dunia bukan hanya dari layar, tapi dari hati.
Parenting Bukan Lomba, Tapi Proses Belajar
Di tengah budaya “parenting show-off” di media sosial, pendekatan Zaskia terasa menyejukkan.
Mantan model dan presenter itu tidak mengejar kesempurnaan, tapi keseimbangan.
“Parenting itu bukan lomba siapa yang paling benar,” tulisnya di Instagram. “Yang penting kita terus belajar dan mengenal anak-anak kita.”
Baginya, menjadi ibu bukan soal tampak ideal di mata netizen, tapi soal hadir apa adanya. Dengan kekacauan, kelelahan, dan cinta yang nyata.
Pesan untuk Orang Tua di Era Gen Alpha
Zaskia sadar, generasi ini akan tumbuh dalam dunia yang makin digital — dan itu tidak bisa dihindari. Tapi yang bisa dilakukan orang tua adalah menjadi jangkar.
“Kalau kita hadir, anak nggak akan cari validasi dari luar. Mereka tahu, rumahnya selalu jadi tempat kembali,” ujarnya bijak.
Bagi banyak orang tua muda, gaya parenting Zaskia jadi semacam wake-up call: modern bukan berarti kehilangan arah.
Ia membuktikan bahwa nilai keluarga, empati, dan kebersamaan tetap bisa tumbuh di tengah layar-layar kecil yang menyala di rumah.
Di dunia yang sibuk mengejar upgrade digital, Zaskia justru mengingatkan satu hal penting:
kadang, yang paling dibutuhkan anak bukan koneksi internet — tapi koneksi dengan orang tuanya sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni