Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Podcaster Bongkar Masalah Pendidikan Indonesia: Anak Pintar Kertas, Lemah Berpikir Kritis

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Jumat, 7 November 2025 | 21:30 WIB
Ilustrasi siswa yang aktif bertanya saat belajar.
Ilustrasi siswa yang aktif bertanya saat belajar.

RADARTUBAN - Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang maju dan berdaya saing.

Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia sering dipandang terlalu fokus pada nilai akademik semata, sementara aspek kritis dan komunikatif sering terabaikan.

Pada minggu (19/10) dalam podcast Sahabat Bicara di kanal YouTube Cherryl Hatumesen bersama Nizam MD, seorang penulis yang tinggal di luar negeri membahas bagaimana berpikir kritis (critical thinking) dan kemampuan berkomunikasi bisa menjadi bekal penting bagi generasi masa depan.

Banyak anak didik pintar secara kertas, tetapi kurang terbiasa berpikir kritis dan mampu menyampaikan pesan dengan baik.

Jika sistem pendidikan tidak mengubah paradigma, maka generasi masa depan akan menghadapi tantangan lebih besar secara global.

Menurut Nizam, pendidikan harus lebih dari sekadar menyampaikan nilai dan mengisi jadwal.

“Pendidikan yang efektif harus mampu mengajarkan keterampilan penting seperti kemampuan komunikasi dan berfikir kritis yang sangat diperlukan di kehidupan nyata”, ungkap Nizam.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, salah satu solusi yang diusulkan adalah memperkuat literasi di semua level, bukan hanya literasi baca tulis, tetapi juga literasi memahami dan menginterpretasi informasi dengan baik.

Dengan memberikan akses yang lebih luas terhadap bacaan bermutu, serta mendukung karya penulis lokal dan nasional agar budaya membaca bisa berkembang.

Selain dari aspek literasi, sistem pendidikan juga harus mampu menanamkan keberanian untuk berbicara dan bertanya, karena kultur berpendapat dan kritis merupakan fondasi dari inovasi dan kreativitas.

Di sisi lain, peran orang tua sangat penting untuk menanamkan rasa percaya diri serta memberi ruang bagi anak untuk bertanya dan belajar dari kegagalan.

“Pendidikan itu bukan cuma di sekolah, tapi juga di keluarga, di mana anak pertama kali belajar tentang kepercayaan diri dan rasa ingin tahu,” ujar Nizam.

Dia menambahkan, bahwa membangun karakter dan soft skill harus menjadi prioritas agar anak mampu menghadapi tantangan zaman.

Waktu belajar yang sangat padat di sekolah hingga hampir menghabiskan sepanjang hari juga berdampak pada kurangnya ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan soft skills seperti kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan terarah dan berfokus pada kelebihan siswa, bukan memaksakan mereka untuk unggul di bidang yang mereka lemah.

Di tengah dinamika politik dan perubahan sosial, sistem pendidikan harus berani berbenah dan tidak takut untuk memutus kebiasaan mengganti kurikulum terus-menerus tanpa penguatan fondasi.

Serta penguatan literasi dan soft skill akan menciptakan generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki sikap kritis, komunikatif, dan percaya diri untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kita harus berani bicara, bukan hanya mendengar, karena inilah kunci utama pendidikan Indonesia yang mampu melahirkan generasi unggul,” tutupnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Fondasi #berkomunikasi #youtube #Critical Thinking #Indonesia #solusi #komunikatif