RADARTUBAN- Kecerdasan buatan (AI) telah mengubah dunia pendidikan sehingga sekolah harus mengikuti perkembangan teknologi baru. Siswa harus tetap tertarik, senang, dan menikmati proses belajar.
Menurut Ezra Alexander, Kepala Sekolah Sekolah Interkultural North Jakarta (NJIS), penggunaan AI di sekolah saat ini tidak dapat dipisahkan lagi dan bahkan dilarang.
Akibatnya, ia menekankan bahwa teknologi tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengalaman belajar siswa, tetapi sebagai alat bantu yang memperkaya proses belajar.
Ezra juga menekankan bahwa peran guru tetap penting dalam menumbuhkan minat belajar di tengah gempuran AI.
Dia percaya bahwa guru yang benar-benar mengajar mampu membangun hubungan yang kuat dengan siswa mereka dan membuat proses belajar terasa lebih hidup.
Hubungan seperti ini membuat siswa merasa nyaman dan bahagia dan akhirnya membuat mereka mencintai proses belajar lebih dari sekadar bergantung pada kecerdasan buatan.
Pendekatan agensi siswa di NJIS sangat penting untuk meningkatkan rasa memiliki terhadap sekolah.
Bahkan dalam hal-hal sederhana seperti menentukan desain seragam, siswa diizinkan untuk berpartisipasi secara aktif.
Siswa merasa lebih terlibat ketika suara mereka dihargai, dan rasa nyaman dan kecintaan mereka terhadap sekolah dan proses belajar tumbuh dengan sendirinya.
Ezra menegaskan bahwa filosofi sekolahnya tercermin dalam tagline discovering excellence in every child.
Banyak siswa yang awalnya tidak menyadari potensi mereka justru menemukannya berkat perhatian guru yang konsisten dan pendekatan yang sangat individual. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni