RADARTUBAN – Praktik saling melirik jawaban saat ujian dipastikan tidak berlaku dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Asesmen terstandar nasional ini dirancang dengan sistem soal yang berbeda untuk setiap peserta. Dengan demikian, peluang bekerja sama antarsiswa nyaris tertutup.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Bidang Pengelola Pendidikan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Siswo Suwarko mengatakan, sistem TKA telah diproteksi untuk mencegah praktik mencontek.
Menurut dia, meski siswa duduk berdampingan dan dapat saling berkomunikasi, soal yang diterima setiap peserta akan berbeda sepenuhnya.
“Potensi mencontek nol persen. Soalnya tidak sama,” ujar Siswo saat ditemui di kantornya.
Dia menjelaskan, berbeda dengan Ujian Nasional (UN) yang hanya mengacak urutan soal, TKA menyajikan variasi kasus, narasi, dan deskripsi yang tampil berbeda pada setiap layar komputer. Meski demikian, bobot dan tingkat kesulitan soal tetap setara.
Perbedaan substansi itu, kata Siswo, membuat upaya menoleh jawaban ke meja sebelah menjadi tidak relevan.
Siswa yang tidak fokus mengerjakan soal sendiri justru berisiko kehabisan waktu. “Kalau hanya mengandalkan jawaban teman, jelas tidak bisa menyelesaikan soal tepat waktu,” ujarnya.
Siswo juga menanggapi isu kebocoran soal yang sempat beredar di jenjang SMA.
Menurut dia, kebocoran tersebut tidak akan berdampak signifikan jika dihadapkan pada banyaknya variasi soal dalam TKA.
Dia mencontohkan, dalam satu ruang ujian yang diisi 20 siswa, akan terdapat 20 varian soal berbeda.
‘’Mau dapat bocoran sebanyak apa pun, tetap sulit dimanfaatkan karena variannya banyak,” kata dia.
Lebih lanjut, Siswo menegaskan bahwa slogan TKA Jujur dan Gembira menekankan pelaksanaan ujian tanpa manipulasi dan kecurangan.
TKA, lanjutnya, tidak menentukan kelulusan, melainkan menjadi alat ukur capaian pembelajaran siswa.
“Melalui TKA, pemerintah ingin melihat sejauh mana hasil belajar anak. Dari situ bisa ditentukan langkah perbaikan ke depan,” ujarnya.
Dia juga mengimbau sekolah agar tidak memberi tekanan berlebihan kepada siswa. “Biarkan anak mengikuti ujian dengan jujur dan tenang, tanpa tekanan yang membuat stres,” pungkas Siswo.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama