RADARTUBAN – Tercatat sebanyak 169 siswa di Tuban dipastikan tidak mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Meski tingkat partisipasi tergolong tinggi, ratusan kursi kosong di ruang ujian menjadi catatan penting bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban.
Ketidakhadiran peserta didik itu dipicu beragam faktor. Mulai dari kondisi anak berkebutuhan khusus, baik secara fisik maupun mental, hingga sikap apatis terhadap pendidikan, terutama di kalangan peserta didik nonformal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Tuban Irma Putri Kartika mengatakan, berbagai tantangan di lapangan tidak terelakkan dalam pelaksanaan TKA tahun ini Kendati demikian, pihaknya memastikan seluruh tahapan tetap berjalan sesuai rencana.
“Kami bertugas memastikan sekolah siap di setiap tahap, mulai dari simulasi, gladi bersih, hingga pelaksanaan utama dan susulan,” ujarnya.
Berdasarkan data Disdik Tuban, di jenjang sekolah dasar terdapat 46 siswa dari total 10.991 yang tidak mengikuti TKA.
Sebagian besar merupakan anak berkebutuhan khusus dan belum lancar membaca serta menulis.
Sementara itu di jenjang sekolah menengah pertama, dari total 10.445 siswa, sebanyak 51 siswa tidak terdaftar sebagai peserta.
Alasannya beragam, mulai dari meninggal dunia, berkebutuhan khusus, tidak berminat mengikuti TKA, hingga kasus putus sekolah dan sakit.
Pada jalur pendidikan nonformal, angka ketidakhadiran juga tercatat. Di program Kejar Paket B, sebanyak 70 dari 638 peserta tidak mengikuti ujian.
Sedangkan pada Kejar Paket A, terdapat dua peserta yang absen.
“Peserta nonformal ratarata berusia 45 sampai 50 tahun. Mereka merasa TKA tidak terlalu penting, yang utama adalah mendapatkan ijazah,” kata Irma.
Dia menyayangkan masih adanya anggapan bahwa TKA tidak memiliki urgensi.
Padahal, meski tidak menjadi syarat kelulusan, hasil ujian tersebut berperan sebagai dasar asesmen siswa serta menjadi bagian dari rapor pendidikan, baik di tingkat satuan pendidikan maupun daerah.
Disdik Tuban berencana melakukan evaluasi menyeluruh, terutama untuk mendorong partisipasi siswa yang sebenarnya tidak memiliki kendala fisik maupun mental.
“Idealnya semua siswa ikut TKA. Ke depan akan kami cari cara agar partisipasi bisa lebih optimal,” ujarnya.
Menurut Irma, tantangan terbesar tidak hanya datang dari keterbatasan fisik, tetapi juga kondisi mental seperti down syndrome dan lambat belajar. Dalam kasus tersebut, pendekatan khusus diperlukan dan tidak bisa dipaksakan.
Selain itu, persoalan pola pikir juga menjadi pekerjaan rumah, terutama pada peserta didik nonformal.
Minimnya kesadaran akan pentingnya asesmen menjadi faktor utama rendahnya partisipasi.
“Kami tidak bisa memaksakan yang memiliki keterbatasan. Tapi untuk yang sebenarnya mampu namun tidak mau ikut, itu yang akan menjadi bahan evaluasi ke depan,” katanya. (saf/ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah