Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Komisi X DPR Tolak Sekolah Daring April 2026, Ingatkan Ancaman Learning Loss dan Dampak Mental Siswa

M Robit Bilhaq • Jumat, 27 Maret 2026 | 10:02 WIB
Ilustrasi siswa yang sedang melakukan pembelajaran dengan sistem daring (RADARTUBAN/ AI)
Ilustrasi siswa yang sedang melakukan pembelajaran dengan sistem daring (RADARTUBAN/ AI)

RADARTUBAN - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, dengan tegas menyatakan keberatannya terkait wacana pemberlakuan sistem sekolah daring yang rencananya akan dimulai bulan April 2026.

Wacana Daring Muncul dari Kebijakan Efisiensi Energi

Sebelumnya langkah tersebut diusulkan pemerintah sebagai bagian dari strategi nasional untuk menekan tingkat konsumsi energi, terutama penggunaan bahan bakar minyak yang sedang mengalami tekanan harga global.

Pengalaman Pandemi Jadi Bahan Evaluasi

Menurut pandangannya, kebijakan tersebut perlu dilakukan pengkajian ulang yang mendalam dengan melihat kembali pengalaman pahit selama masa pandemi beberapa tahun silam yang memperlihatkan banyak kelemahan dalam metode pembelajaran jarak jauh.

Baca Juga: Gunakan Media Sosial hingga Gim Daring, Lima Perekrut Anak untuk Terorisme Diciduk Densus 88

Isu Daring Harus Jadi Alarm bagi Pemerintah

Esti berpendapat bahwa ketika isu sekolah daring mulai ramai dibicarakan di berbagai media massa, hal itu seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk meninjau kembali keputusan tersebut secara komprehensif.

Rencana Belajar dari Rumah Usai Lebaran

Saat ini, pihak eksekutif sendiri memang sedang merencanakan aturan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah setelah masa libur Lebaran 2026 berakhir dengan tujuan efisiensi fiskal di tengah gejolak geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga minyak.

Skema Kerja Fleksibel Juga Dipertimbangkan

Selain menyasar sektor pendidikan, pemerintah juga sedang menimbang penerapan pola kerja fleksibel bagi para pegawai negeri sipil demi meminimalisir pergerakan harian masyarakat di jalan raya.

Dampak Negatif Sekolah Daring Jadi Sorotan

Namun, Esti memberikan peringatan keras bahwa praktik sekolah daring di masa lalu telah meninggalkan luka dan persoalan yang sangat kompleks bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Risiko Learning Loss Kembali Mengintai

Esti melihat berbagai dampak negatif yang muncul, mulai dari kemerosotan kemampuan para siswa dalam memahami materi pelajaran, rusaknya pola kedisiplinan, terhambatnya pembentukan karakter, hingga kendala teknis terkait penguasaan teknologi.

Yang menjadi kekhawatiran dalam hal ini yaitu fenomena kehilangan masa pembelajaran atau yang dikenal dengan istilah learning loss, hal tersebut juga sempat disinggung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti.

Baca Juga: SMPN 3 Montong Jadi yang Pertama dan Satu-satunya di Tuban yang Gelar Pemilihan Ketua OSIS Secara Daring

Pemulihan Kualitas Pendidikan Tidak Mudah

Mengejar ketertinggalan kualitas akademik tersebut diakui bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan bagi para pendidik maupun orang tua murid.

Skor PISA Jadi Bukti Penurunan Prestasi

Meskipun metode jarak jauh dianggap efektif untuk memutus rantai penyebaran virus di masa lalu, hasil evaluasi internasional seperti skor PISA tahun 2022 menunjukkan penurunan prestasi siswa Indonesia di bidang literasi, matematika, hingga sains secara drastis.

Dampak Psikologis dan Sosial Tak Terelakkan

Di luar masalah nilai akademik, sistem belajar dari rumah juga membawa pengaruh buruk bagi kesehatan mental serta fisik para pelajar karena minimnya interaksi sosial yang nyata.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya risiko kecanduan smartphone, tingkat stres yang meninggi, hingga kecenderungan anak menjadi antisosial serta kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya.

Potensi Risiko Sosial Ikut Meningkat

Bahkan, beberapa praktisi pendidikan khawatir lemahnya pengawasan dalam sistem daring dapat memicu terjadinya pernikahan dini di kalangan pelajar.

Usulan Alternatif: Optimalisasi Transportasi Umum

Maka dari itu, Esti mendesak pemerintah untuk tidak menggunakan sektor pendidikan sebagai tumbal dalam kebijakan penghematan energi dan segera mencari solusi alternatif lain yang tidak merugikan masa depan generasi muda.

Esti mengusulkan optimalisasi angkutan umum sebagai sarana antar-jemput siswa yang lebih efisien sebagai sarana pengganti, dibandingkan harus menutup sekolah dan mengalihkan pembelajaran ke ruang digital. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sekolah daring #learning loss #wakil ketua komisi x dpr ri #MY Esti Wijayanti