RADARTUBAN - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, dengan tegas menyatakan keberatannya terkait wacana pemberlakuan sistem sekolah daring yang rencananya akan dimulai bulan April 2026.
Wacana Daring Muncul dari Kebijakan Efisiensi Energi
Sebelumnya langkah tersebut diusulkan pemerintah sebagai bagian dari strategi nasional untuk menekan tingkat konsumsi energi, terutama penggunaan bahan bakar minyak yang sedang mengalami tekanan harga global.
Pengalaman Pandemi Jadi Bahan Evaluasi
Menurut pandangannya, kebijakan tersebut perlu dilakukan pengkajian ulang yang mendalam dengan melihat kembali pengalaman pahit selama masa pandemi beberapa tahun silam yang memperlihatkan banyak kelemahan dalam metode pembelajaran jarak jauh.
Baca Juga: Gunakan Media Sosial hingga Gim Daring, Lima Perekrut Anak untuk Terorisme Diciduk Densus 88
Isu Daring Harus Jadi Alarm bagi Pemerintah
Esti berpendapat bahwa ketika isu sekolah daring mulai ramai dibicarakan di berbagai media massa, hal itu seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk meninjau kembali keputusan tersebut secara komprehensif.
Rencana Belajar dari Rumah Usai Lebaran
Saat ini, pihak eksekutif sendiri memang sedang merencanakan aturan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah setelah masa libur Lebaran 2026 berakhir dengan tujuan efisiensi fiskal di tengah gejolak geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga minyak.
Skema Kerja Fleksibel Juga Dipertimbangkan
Selain menyasar sektor pendidikan, pemerintah juga sedang menimbang penerapan pola kerja fleksibel bagi para pegawai negeri sipil demi meminimalisir pergerakan harian masyarakat di jalan raya.
Dampak Negatif Sekolah Daring Jadi Sorotan
Namun, Esti memberikan peringatan keras bahwa praktik sekolah daring di masa lalu telah meninggalkan luka dan persoalan yang sangat kompleks bagi sistem pendidikan di Indonesia.
Risiko Learning Loss Kembali Mengintai
Esti melihat berbagai dampak negatif yang muncul, mulai dari kemerosotan kemampuan para siswa dalam memahami materi pelajaran, rusaknya pola kedisiplinan, terhambatnya pembentukan karakter, hingga kendala teknis terkait penguasaan teknologi.
Yang menjadi kekhawatiran dalam hal ini yaitu fenomena kehilangan masa pembelajaran atau yang dikenal dengan istilah learning loss, hal tersebut juga sempat disinggung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti.
Pemulihan Kualitas Pendidikan Tidak Mudah
Mengejar ketertinggalan kualitas akademik tersebut diakui bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan bagi para pendidik maupun orang tua murid.
Skor PISA Jadi Bukti Penurunan Prestasi
Meskipun metode jarak jauh dianggap efektif untuk memutus rantai penyebaran virus di masa lalu, hasil evaluasi internasional seperti skor PISA tahun 2022 menunjukkan penurunan prestasi siswa Indonesia di bidang literasi, matematika, hingga sains secara drastis.
Dampak Psikologis dan Sosial Tak Terelakkan
Di luar masalah nilai akademik, sistem belajar dari rumah juga membawa pengaruh buruk bagi kesehatan mental serta fisik para pelajar karena minimnya interaksi sosial yang nyata.
Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya risiko kecanduan smartphone, tingkat stres yang meninggi, hingga kecenderungan anak menjadi antisosial serta kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
Potensi Risiko Sosial Ikut Meningkat
Bahkan, beberapa praktisi pendidikan khawatir lemahnya pengawasan dalam sistem daring dapat memicu terjadinya pernikahan dini di kalangan pelajar.
Usulan Alternatif: Optimalisasi Transportasi Umum
Maka dari itu, Esti mendesak pemerintah untuk tidak menggunakan sektor pendidikan sebagai tumbal dalam kebijakan penghematan energi dan segera mencari solusi alternatif lain yang tidak merugikan masa depan generasi muda.
Esti mengusulkan optimalisasi angkutan umum sebagai sarana antar-jemput siswa yang lebih efisien sebagai sarana pengganti, dibandingkan harus menutup sekolah dan mengalihkan pembelajaran ke ruang digital. (*)