Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gelar Bergengsi Tak Lagi Sakti? Ahli AI Google Sebut Kuliah Hukum dan Kedokteran Cuma Buang Waktu

M Robit Bilhaq • Minggu, 5 April 2026 | 14:48 WIB
Ilustrasi seorang mahasiswa. (RADAR TUBAN/AI(
Ilustrasi seorang mahasiswa. (RADAR TUBAN/AI)

RADARTUBAN - Gelar akademik yang selama ini dianggap sebagai yang bergengsi, seperti di bidang hukum dan kedokteran, kedepan di prediksi akan tidak relevan lagi di masa mendatang.

Hal tersebut disebabkan oleh kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang saat ini perkembangannya sangat pesat, bahkan para mahasiswa di bidang tersebut dinilai hanya menghabiskan waktu mereka dengan sia-sia.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Jad Tarifi, selaku seseorang yang mendirikan tim AI generatif pertama di Google.

Menurut analisisnya, masa kuliah mahasiswa untuk meraih gelar profesi dokter atau pengacara akan sia sia karena kemampuan AI akan melampaui mereka.

Baca Juga: Tes Kompetensi Akademik Jadi Tolok Ukur Baru, Bagaimana Manfaat Nyatanya Bagi Siswa?

Tarifi, yang juga merupakan pemegang gelar PhD di bidang kecerdasan buatan, menjelaskan bahwa AI kedepan akan sangat maju saat seseorang menyelesaikan gelar doktoralnya, termasuk solusi AI pada bidang robotika yang diperkirakan sudah akan tuntas.

Untuk memperoleh gelar profesi yang matang seperti dokter atau ahli hukum memang sangat panjang durasi pendidikannya.

Setidaknya dibutuhkan waktu hampir sepuluh tahun bagi seorang mahasiswa untuk benar-benar bisa terjun secara profesional ke dalam dunia kerja.

Tarifi menjelaskan bahwa rentang waktu pendidikan tersebut akan berisiko membuat para lulusan baru yang memasuki dunia kerja dengan bekal pengetahuan sudah dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Selain masalah durasi, Tarifi juga memberikan kritik tajam terhadap sistem pendidikan konvensional yang saat ini diterapkan.

Metode pembelajaran sekarang dianggap masih terlalu bertumpu pada kemampuan menghafal materi, bukannya pada penguasaan keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan di era digital.

Tarifi juga menyoroti pencapaian akademik tingkat lanjut, termasuk gelar PhD yang dinilai terancam kehilangan nilai tambahnya.

Hal ini disebabkan karena pertumbuhan inovasi di sektor kecerdasan buatan bergerak jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah gelar akademik.

Tarifi berpendapat bahwa di masa depan kesuksesan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak gelar atau kredensial yang dikumpulkan seseorang.

Kunci keberhasilan justru terletak pada pengembangan perspektif yang khas, tingkat kesadaran emosional yang tinggi, dan juga kemampuan dalam membangun relasi antarmanusia yang solid.

Baca Juga: Pendaftaran TKA 2025 Resmi Dibuka hingga 5 Oktober, Jadi Alat Ukur Penting Kemampuan Akademik dan Potensi Peserta Didik

Maka dari itu, Tarifi memberikan saran agar generasi muda lebih menitikberatkan perhatian mereka pada pengembangan kapasitas insani yang sulit direplikasi oleh teknologi.

Keahlian seperti empati, kemampuan interpersonal, serta kematangan pengembangan diri secara emosional menjadi aspek-aspek utama yang disarankan untuk terus dipelajari agar tetap relevan di AI berkembang. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#AI #prediksi #google #kedokteran