Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sekolah Rakyat Tuban Belum Dimulai, tapi Sudah Harus Dievaluasi karena Kurang Banyak Siswa

Ahmad Atho'illah • Senin, 29 Juni 2026 | 16:24 WIB
Pekerja Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban mengerjakan konstruksi atap galvalum, area pengerjaan gedung sekolah di Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban tersebut tertutup pagar yang rapat dan tinggi.
Pekerja Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Tuban mengerjakan konstruksi atap galvalum, area pengerjaan gedung sekolah di Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban tersebut tertutup pagar yang rapat dan tinggi.

RADARTUBAN – Alih-alih menjawab kebutuhan pendidikan, pembangunan gedung sekolah rakyat (SR) di Kabupaten Tuban yang menelan anggaran ratusan miliar justru berpotensi menjadi masalah baru karena perencanaannya yang tidak matang. 

Dan seperti program makan bergizi gratis (MBG) yang digulirkan terlebih dahulu, setelah ada korupsi baru dievaluasi.

Program SR juga diprediksi bakal bernasib sama: jalan dulu, setelah itu baru dievaluasi. Padahal, bangunan sudah berdiri megah dan menghabiskan anggaran ratusan miliar.

Baca Juga: Peminat Minim, 17 Ruang Kelas Sekolah Rakyat Tuban Berpotensi Nganggur

Sinyal evaluasi atas program yang tidak direncanakan secara matang itu mulai terlihat dari minimnya jumlah siswa baru jenjang sekolah dasar (SD). Dari tiga rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas masing-masing 30 siswa, hanya mendapat 18 anak. Sementara ruangan yang disediakan dari kelas 1-6 sebanyak 18 kelas.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Sugeng Purnomo selaku tim koordinasi kabupaten mengatakan, potensi ruang kelas kosong lantaran jumlah siswa yang diterima tidak sesuai kuota masih dalam pembahasan.

Disampaikan Sugeng, jumlah siswa baru yang tidak memenuhi kuota hanya jenjang SD. Sementara jenjang SMP dan SMA melebihi kuota.

‘’Dalam rapat beberapa hari lalu, yang mendapat perhatian khusus memang jenjang SD. Dan masalah ini (tidak dapat murid, red) tidak hanya terjadi di Tuban, tapi juga terjadi di daerah lain,’’ katanya.

Sugeng menyampaikan, kendati kuota SD tidak terpenuhi, bukan berarti ruang kelas yang telah dibangun bakal nganggur.

‘’Infonya, tapi belum ada surat resmi maupun pemberitahuan, kuota lebih dari jenjang SMP-SMA akan diterima semua sehingga bisa menempati ruang kelas jenjang SD yang kosong. Tapi sekali lagi, ini baru info,’’ jelasnya.

Namun, karena baru sebatas informasi—yang saat itu juga menjadi persoalan di banyak daerah—sehingga belum dapat dipastikan.

‘’Sampai saat ini belum ada nota dari pusat terkait penetapan siswa yang diterima. Jadi, apakah diterima semua atau berdasar kuota, hingga saat ini belum ada keputusan,’’ tandasnya.

Sebagaimana diketahui, jenjang SMP dan SMA SR Tuban juga disiapkan tiga rombel. Dan dari tiga rombel tersebut, semuanya sudah terpenuhi, bahkan lebih, baik jenjang SMP maupun SMA. (tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Sekolah Rakyat #Mbg