RADARTUBAN - Pelaksanaan seleksi penerimaan murid baru (SPMB) jenjang SMP di Tuban tahun ini diwarnai persaingan yang ketat.
Di tengah tingginya minat masyarakat terhadap sekolah-sekolah favorit, tidak sedikit calon peserta didik yang justru kehilangan kesempatan bersekolah di wilayah tempat tinggalnya sendiri. Strategi memilih sekolah yang dianggap unggulan pada akhirnya memicu persaingan dan menggeser banyak pendaftar.
Memasuki SPMB gelombang II tahap B, hampir seluruh SMP negeri favorit di Kecamatan Tuban telah memenuhi daya tampung.
Baca Juga: SPMB SD Tuban Sudah Tuntas, 10.204 Siswa Baru Siap Mengikuti Tahun Pelajaran Baru
Akibatnya, calon peserta didik yang belum diterima tidak lagi memiliki banyak pilihan, kecuali mengincar sisa kursi yang tersedia atau beralih ke sekolah swasta maupun sekolah negeri di luar kota.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Irma Putri Kartika melalui Staf Teknis Posko SPMB, Rian mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi kecenderungan masyarakat menempatkan sekolah favorit sebagai pilihan pertama maupun kedua. Pilihan yang seragam membuat persaingan semakin ketat.
Sementara sebagian besar pendaftar akhirnya tidak memperoleh kursi di sekolah yang diinginkan.
"Banyak warga Tuban yang berspekulasi ke sekolah favorit pada pilihan satu dan dua yang pada akhirnya berakhir tergeser," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (29/6).
Fenomena itu kemudian memunculkan efek domino. Sekolah-sekolah negeri yang sebelumnya tidak termasuk kategori favorit justru dipenuhi pendaftar dari luar Kecamatan Tuban yang menjadikannya sebagai pilihan kedua.
Pergeseran tersebut menyebabkan hampir seluruh SMP negeri di Kecamatan Tuban mencapai kapasitas maksimal. Dampaknya, calon peserta didik yang berdomisili di Kecamatan Tuban justru menghadapi keterbatasan pilihan untuk bersekolah di wilayahnya sendiri.
"Kondisi ini membuat anak-anak yang berdomisili di Kecamatan Tuban sendiri kesulitan masuk ke sekolah negeri di kecamatannya, dan pilihan yang tersisa bagi mereka adalah beralih ke sekolah secondary, swasta, atau yang memang tidak berada di pusat kota," kata Rian.
Meski demikian, masih terdapat sedikit peluang pada gelombang II tahap B. Beberapa sekolah kembali memiliki kursi kosong setelah sejumlah calon peserta didik mengundurkan diri ketika proses daftar ulang. Sebagian memilih melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren, sekolah swasta, maupun pindah domisili.
Sisa daya tampung itu, menurut Rian, umumnya hanya berkisar satu hingga dua kursi di setiap sekolah. Karena jumlahnya terbatas, persaingan untuk memperebutkan kursi yang tersisa diperkirakan tetap berlangsung ketat.
Dia berharap pengalaman pada pelaksanaan SPMB tahun ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar lebih realistis dalam menentukan pilihan sekolah.
"Dari hal ini kami mengingatkan calon siswa dan orang tua agar kedepannya tidak bisa main-main dan berspekulasi lagi dalam memilih sekolah," ujarnya.
Baca Juga: Jalur WPK SPMB SMP di Tuban Nyaris Penuh, SMPN 1 Jatirogo Sisakan Lima Kursi
Data Dinas Pendidikan Tuban menunjukkan sejumlah sekolah yang telah memenuhi pagu, antara lain. SMP Negeri 1 Tuban, SMP Negeri 6 Tuban, SMP Negeri 1 Jenu, SMP Negeri 1 Soko, SMP Negeri 2 Soko, SMP Negeri 1 Rengel, SMP Negeri 1 Jatirogo, dan SMP Negeri 1 Montong.
Sementara itu, SMP Negeri 3 Tuban yang sempat penuh kini kembali memiliki beberapa kursi kosong setelah sejumlah peserta didik mengundurkan diri.
Pada gelombang II tahap A, SMP Negeri 1 Tuban dan SMP Negeri 3 Tuban bahkan sempat mencatat jumlah pendaftar hingga dua kali lipat dibandingkan kapasitas yang tersedia.
Menurut Rian, calon peserta didik yang belum diterima pada dua pilihan sekolah sebelumnya masih dapat memanfaatkan sisa kuota tersebut pada pendaftaran gelombang II tahap B.
"Kini, para calon peserta didik yang mendaftar pada tahap A lalu dan belum lolos di dua sekolah pilihan, bisa memanfaatkan sisa pagu kosong tersebut di pendaftaran Tahap B ini," pungkasnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama