Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

SPMB Online Tuban Ditutup, Pendaftaran SD dan SMP Lewat Jalur Offline Masih Dibuka

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 13 Juli 2026 | 15:04 WIB
Kepala Sekolah SD Mondokan memantau kegiatan belajar mengajar di sekolahnya beberapa waktu lalu. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)
Kepala Sekolah SD Mondokan memantau kegiatan belajar mengajar di sekolahnya beberapa waktu lalu. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Berakhirnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring bukan berarti pintu masuk sekolah ikut tertutup.

Di Kabupaten Tuban, SD dan SMP yang kuota siswanya belum terpenuhi masih diberi kesempatan menerima peserta didik secara luring hingga akhir Agustus 2026.

Kebijakan tersebut ditempuh agar tidak ada anak usia sekolah yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena melewati tahapan pendaftaran daring. Batas akhir pembaruan data pokok pendidikan (dapodik) pada 31 Agustus menjadi ruang bagi sekolah untuk tetap menjaring calon peserta didik.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Irma Putri Kartika mengatakan, penjaringan secara langsung masih terus dilakukan, meski tahapan SPMB online telah berakhir.

Baca Juga: Hari Ini Hasil SPMB SMP Negeri Tuban Tahap B Diumumkan, Ini yang Harus Diperhatikan

"Kami hingga saat ini masih terus berusaha menjangkau siswa secara offline meski SPMB online sudah selesai. Karena cut off dapodik jatuh di tanggal 31 Agustus, sehingga masih memungkinkan untuk siswa daftar secara offline," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Menurut Irma, upaya tersebut tidak hanya ditujukan bagi calon peserta didik SD dan SMP, namun juga anak-anak usia SMA. Dinas pendidikan bersama berbagai pihak melakukan penelusuran langsung ke lapangan untuk memastikan anak-anak usia sekolah tetap memperoleh akses pendidikan sesuai jenjangnya.

"Termasuk anak-anak usia jenjang SMA juga kami perhatikan dan bukan sekadar urusan kewenangan saja. Kemarin kami telah melakukan tracking siswa usia sekolah jenjang SD dan SMP untuk memastikan anak-anak lulusan SMP dapat tempat di jenjang SMA," imbuhnya.

Penelusuran itu menyasar anak usia 6–7 tahun, 12–13 tahun, hingga 15–17 tahun. Dari hasil pendataan, respons masyarakat beragam.

Sebagian orang tua langsung bersedia mendaftarkan kembali anaknya ke sekolah. Sementara sebagian lainnya memerlukan pendekatan yang lebih intensif.

Irma menilai mengajak anak kembali ke bangku sekolah tidak cukup dilakukan melalui imbauan satu kali. Pendekatan personal menjadi kunci agar keluarga memahami pentingnya pendidikan.

"Untuk hal ini memang memerlukan pendekatan secara personal. Dan, tentunya tidak bisa dilakukan sekali. Selain itu, pendekatannya juga tidak bisa menggunakan ancaman atau peringatan yang ketat," terangnya.

Bagi anak yang sebelumnya putus sekolah, dinas pendidikan menyiapkan jalur pendidikan nonformal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Layanan pendidikan juga dipastikan tetap tersedia bagi anak berkebutuhan khusus.

"Kami maksimalkan penjaringan ini sebelum akhir Agustus nanti. Bagaimanapun caranya, anak-anak terutama yang bisa kembali ke sekolah bisa kami layani pendidikannya di sekolah formal maupun informal melalui PKBM," ujar pejabat yang berdomisili di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding itu.

Baca Juga: SPMB SMP Tuban 2026 Sengit, Sekolah Favorit Penuh dan Warga Kota Kehabisan Pilihan

Sementara itu, ribuan peserta didik yang telah diterima melalui SPMB daring dijadwalkan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara serentak mulai Senin (13/7).

"Harapannya, pendaftaran offline dan penjaringan yang masih bisa dilakukan sebelum cut off dapodik ini bisa kami maupun masyarakat manfaatkan secara optimal sebelum penarikan data sekolah dikunci dalam dapodik," pungkas Irma.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
dapodik Tuban daring spmb dinas pendidikan