RADARTUBAN – Tangis haru mengiringi hari pertama ratusan siswa baru di SMAN 1 Soko, Tuban kemarin (13/7).
Di hadapan ayah dan ibu mereka, para siswa bersimpuh memohon restu sebelum memulai perjalanan sebagai pelajar sekolah menengah atas. Prosesi itu menjadi penanda bahwa pendidikan tidak hanya dimulai dari ruang kelas, namun juga dari ikatan emosional yang tumbuh di lingkungan keluarga.
Berbeda dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada umumnya, SMAN 1 Soko melibatkan orang tua sejak awal kegiatan. Mereka mendampingi putra-putrinya memasuki gerbang sekolah, mengikuti upacara pembukaan, hingga menyaksikan prosesi penyerahan siswa kepada pihak sekolah.
Usai upacara, suasana berubah hening. Seluruh siswa baru duduk bersimpuh di hadapan orang tua masing-masing. Mereka lebih dahulu menuliskan cita-cita yang ingin diwujudkan selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Soko.
Baca Juga: Dokumentasi SMAN 1 Soko yang Dipercaya Wakili Cabang Dinas Pendidikan di Tingkat Provinsi
Kertas yang sama kemudian berpindah ke tangan orang tua untuk diisi doa dan harapan bagi masa depan anak-anak mereka.
Momen itu berlanjut dengan sungkeman. Para siswa memohon restu kepada orang tua sebelum memulai masa belajar. Sejumlah orang tua tampak tak kuasa menahan air mata saat memeluk dan mendoakan anak-anak mereka agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak baik, serta mampu meraih cita-cita.
Sebelum meninggalkan sekolah, perwakilan wali murid secara simbolis menyerahkan putra-putri mereka kepada pihak sekolah untuk dibimbing dan dididik selama tiga tahun ke depan.
Setelah prosesi bersama orang tua selesai, seluruh peserta didik baru mengikuti Deklarasi Sekolah Antikorupsi bersama kepala sekolah, guru, dan komite sekolah. Deklarasi tersebut menjadi salah satu materi utama dalam MPLS sebagai upaya menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas sejak hari pertama siswa mengenyam pendidikan.
Kepala SMAN 1 Soko, Sumarni, S.P., M.Pd., mengatakan, MPLS tidak hanya menjadi ajang mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga momentum untuk membangun karakter peserta didik. "Melalui MPLS kami ingin membentuk karakter siswa sejak awal. Harapannya mereka tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga berintegritas dan berakhlak baik," ujarnya.
"Kami bukan hanya mendidik anak agar pintar tetapi juga membentuk karakter mereka. Karakter yang baik akan menjadi bekal penting untuk meraih prestasi dan menghadapi kehidupan di masa depan," tegasnya.
Beliau menjelaskan, Deklarasi Sekolah Antikorupsi dipilih sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Melalui kegiatan tersebut, siswa dikenalkan pada pentingnya menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas agar terhindar dari perilaku koruptif. "Kami ingin anak-anak memiliki integritas, menjunjung kejujuran, serta tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan maupun hukum," katanya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut diharapkan tetap melekat ketika para siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja sehingga mampu menjalankan profesi apa pun dengan menjunjung prinsip antikorupsi.
Baca Juga: Nasib Gelandangan di Soko: Strok, Tak Terdaftar BPJS, Meninggal, Ditolak Keluarga
Di sisi lain, SMAN 1 Soko juga terus mengembangkan berbagai program untuk membekali peserta didik menghadapi perubahan zaman. Sekolah memiliki program unggulan double track melalui unit kewirausahaan berbasis digital dan industri kreatif.
Dalam waktu dekat, sekolah juga menyiapkan pembukaan kelas robotika. Untuk merealisasikan program tersebut, SMAN 1 Soko mulai menjajaki kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Petra. "Tujuan kami ingin siswa memiliki bekal menghadapi perkembangan teknologi, mulai robotika hingga AI, sehingga mampu bersaing di masa depan," ujarnya.
Ibu Sumarni menambahkan, pengembangan berbagai program pendidikan tersebut tidak terlepas dari dukungan Komite SMAN 1 Soko. Sinergi antara sekolah dan komite menjadi salah satu kekuatan dalam merancang pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus tetap sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakter masyarakat pedesaan.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban