Inilah Empat Tipe Guru yang Merusak Pendidikan, Guru Gembul Soroti Penghambat Siswa

Nadia Aulia • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:43 WIB
Ilustrasi  berbagai karakter guru dan dampaknya terhadap peserta didik.(Radar Tuban/AI)
Ilustrasi  berbagai karakter guru dan dampaknya terhadap peserta didik.(Radar Tuban/AI)

RADARTUBAN – Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih menjadi sorotan dalam dunia pendidikan.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan matematika, membaca, dan sains menunjukkan capaian siswa Indonesia masih relatif rendah dibandingkan banyak negara peserta. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti kreator konten edukasi Guru Gembul.

Melalui tayangan di kanal YouTube Guru Gembul Channel, ia mengaitkan persoalan kualitas SDM dengan berbagai masalah dalam penyelenggaraan pendidikan.

Menurutnya, guru sebagai salah satu unsur penting dalam pendidikan turut memiliki peran dalam membentuk kualitas peserta didik.

Baca Juga: Guru Harus Jadi Sahabat Siswa, Anggun Winata Dorong Pembelajaran Inovatif di Era Digital

Guru Gembul kemudian mengelompokkan empat tipe guru yang menurutnya berpotensi memberikan dampak buruk terhadap kualitas pendidikan. Ia mengimbau masyarakat maupun lembaga pendidikan untuk berhati-hati apabila menemukan karakteristik tersebut.

Guru Bodoh

Tipe pertama adalah “guru bodoh”, yakni guru yang dinilai kurang memiliki kompetensi dan pemahaman mengenai psikologi perkembangan anak.

Dia mencontohkan anak yang mengalami disleksia. Dalam tayangannya, Guru Gembul menyebut sekitar 10 hingga 15 persen anak sekolah di Indonesia mengalami disleksia.

Menurutnya, ketidaktahuan guru terhadap kondisi tersebut dapat membuat anak keliru dicap bodoh atau malas, padahal membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

Label negatif semacam itu, lanjutnya, berpotensi memengaruhi kepercayaan diri anak hingga beranjak dewasa.

Guru Kipun

Tipe kedua adalah “guru kipun” atau guru yang disebutnya bermental feodal.

Guru dalam kategori ini digambarkan sebagai sosok yang gemar mengagungkan masa lalu dan menganggap generasi sekarang lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya.

Mereka juga dinilai cenderung menuntut penghormatan berdasarkan senioritas atau hierarki serta mempertahankan metode lama yang belum tentu sesuai dengan perkembangan zaman.

Guru Egois

Tipe ketiga adalah “guru egois”. Guru dalam kategori ini disebut enggan mengakui kesalahan, termasuk ketika materi yang disampaikan mendapat koreksi dari siswa.

Guru Gembul juga menyoroti kebiasaan mempermalukan atau membanding-bandingkan siswa di hadapan orang lain.

Menurutnya, perilaku tersebut dapat menghambat keberanian siswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, maupun mengembangkan rasa percaya diri dalam proses pembelajaran.

Baca Juga: Dulu Dijuluki Lautan Kematian, Gurun Kubuki Kini Hijau Berkat 4,5 Juta Kelinci

Guru Cuan

Tipe terakhir ialah “guru cuan”, yakni guru yang dinilai menjadikan penghasilan, sertifikasi, dan tunjangan sebagai orientasi utama.

Guru tipe ini disebut kurang memiliki dorongan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas mengajar.

Dia menyinggung sejumlah praktik yang menurutnya kerap dilakukan, seperti memberikan tugas menyalin buku hingga membebani siswa untuk membeli Lembar Kerja Siswa (LKS).

Meski demikian, kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh guru. Guru Gembul menilai masih banyak pendidik yang menjalankan profesinya dengan kompetensi dan kepedulian terhadap siswa.

“Pihak yang paling bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan yang buruk di Indonesia itu adalah penyelenggara pendidikan, termasuk di dalamnya adalah guru-guru,” ujarnya.

Sorotan tersebut menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum. Peningkatan kompetensi, kemampuan memahami karakter peserta didik, integritas, serta kemauan guru untuk terus belajar juga menjadi bagian penting dalam menciptakan pendidikan yang lebih berkualitas. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
guru gembul kreator pendidikan cuan