Nilai Rapor Bagus tapi TKA Anjlok, Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Kita?

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:12 WIB
Seorang siswi tampak kebingungan saat sedang mengerjakan soal ujian di dalam kelas. (pinterest.com)
Seorang siswi tampak kebingungan saat sedang mengerjakan soal ujian di dalam kelas. (pinterest.com)

RADARTUBAN– Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) terbaru memicu keprihatinan publik setelah mengungkap angka rata-rata kemampuan siswa sekolah yang tergolong sangat rendah. 

Kondisi ini jauh berbeda dengan nilai rapot harian sekolah yang cenderung selalu memuaskan, di mana tes TKA justru membuktikan kualitas serta kompetensi pendidikan anak didik yang sebenarnya di dunia nyata.

Dalam analisis yang dibahas oleh kanal YouTube Social Notes, temuan TKA menunjukkan bahwa capaian tiga mata pelajaran wajib berada di tingkat yang amat mengkhawatirkan. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia tercatat sebesar 55,38.

Sementara itu, kemampuan numerasi dan literasi global jauh lebih rendah, di mana rata-rata nilai Matematika hanya mencapai 36,10 dan Bahasa Inggris jatuh di angka 24,93. Capaian mata pelajaran pilihan seperti Ekonomi pun turut tertekan pada angka 31,68.

Baca Juga: Rata-Rata Nilai TKA SMP Tuban 53,89, Kemampuan Literasi Numerasi Perlu Ditingkatkan

Fenomena ini membongkar praktik lama dalam dunia pendidikan nasional, yakni maraknya pengatrolan nilai rapor untuk menjaga citra sekolah atau mengejar target kelulusan semata. 

Akibatnya, nilai rapor siswa sering kali tidak mencerminkan kemampuan analisis dan pemahaman materi yang sesungguhnya. Keberadaan TKA dinilai sebagai instrumen yang jujur untuk membuka realita performa akademis nasional.

Ada beberapa faktor utama yang melatarbelakangi rendahnya angka capaian tersebut, salah satunya adalah ketimpangan kualitas tenaga pengajar serta kurang maksimalnya proses pembelajaran substansial di kelas.

Selain itu, ada anggapan di kalangan siswa bahwa TKA tidak secara langsung menentukan kelulusan sekolah. Anggapan tersebut terbukti kerap membuat sebagian anak didik tidak mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka ketika sedang mengikuti proses tes atau ujian.

Keberadaan TKA diharapkan tidak sekadar menjadi ajang evaluasi tahunan, melainkan menjadi cermin objektif bagi pemerintah dan pengambil kebijakan.

Informasi serta angka-angka tersebut sangat penting untuk merencanakan peningkatan mutu para pendidik, membuat kurikulum baru, sampai memperbaiki cara mengajar di semua daerah di Indonesia.

​"Nilai TKA yang rendah bukan akhir dunia, melainkan sinyal bahwa ada kemampuan dasar yang perlu dikejar sebelum masuk dunia kerja. Di dunia dewasa nanti, yang ditanya bukan sekadar lulus atau tidak, tetapi apa yang benar-benar bisa kita lakukan," tegas narator Social Notes dalam video YouTube miliknya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Social Notes
nilai raport tka siswa