RADARTUBAN– Melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri sering kali menjadi impian besar bagi banyak pelajar Indonesia.
Namun, di balik kemegahan arsitektur dan reputasi akademis kelas dunia, terdapat realita kehidupan serta berbagai tantangan nyata yang harus dihadapi oleh para mahasiswa internasional di Kota London, Inggris.
Hal tersebut dibagikan oleh seorang alumni program magister (Master's), Aziza Francienne, saat melakukan penjelajahan kembali (campus tour) di almamaternya, King's College London.
Perjalanan menjelajah kawasan kampus yang berkonsep city campus tersebut menyuguhkan atmosfer dinamis sekaligus tantangan khas kota besar.
Saat baru keluar dari Stasiun Holborn menuju gedung Bush House milik King's College London, Aziza mendapati aksi demonstrasi skala besar di sepanjang jalan yang dijaga ketat oleh aparat kepolisian.
"Pas banget kampus aku itu di seberangnya para pendemo ini. Jujur aku lumayan deg-degan di sini karena banyak banget polisi. Ini tuh demo dari far-right party yang specifically ngebahas soal imigran," ujar Aziza menceritakan pengalamannya di lokasi.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Unirow Kelompok 28 Sosialisasikan Strategi Pemasaran Digital untuk UMKM Banjarsari
Selain dinamika isu sosial, Aziza menyoroti bahwa kuliah di Inggris menyimpan realita finansial yang kian ketat. Biaya kuliah untuk mahasiswa internasional jauh lebih tinggi dibanding warga lokal.
"International student di London, Inggris itu bayar bisa 2 sampai 3 kali lipat lebih mahal dari orang lokal Inggris. Contohnya kalau S2, orang lokal bisa belasan ribu pound, orang international student bisa 30.000 pound (sekitar Rp600 juta)," ungkapnya.
Di samping biaya kuliah yang fantastis dan tingginya biaya hidup (cost of living), kebijakan imigrasi pascastudi (Graduate Route visa) juga terus mengalami pengetatan.
Meski demikian, fasilitas dan kualitas pendidikan di London tetap dinilai sangat memadai. Kampus-kampus seperti King's College London menyediakan ruang belajar inklusif dengan fasilitas tempat ibadah (praying room) yang toleran.
Para mahasiswa pun biasanya memanfaatkan menu paket hemat (meal deal) seharga 3 hingga 4 pound di supermarket lokal untuk menyiasati pengeluaran harian di sela jam perkuliahan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni