Benarkah Kuliah Tidak Penting? Jangan Terkecoh Mitos Drop Out Sukses Jika Tanpa Privilege!

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:20 WIB
ilustrasi anak sekolah. (Radar Tuban/ AI)
ilustrasi anak sekolah. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN - Pembahasan mengenai efektivitas perguruan tinggi kembali menjadi perbincangan hangat di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif dan digital. 

Dalam lanskap ekonomi modern saat ini, tak sedikit narasi yang mengklaim bahwa pendidikan tinggi tidak lagi relevan bagi kesuksesan finansial seseorang. 

Menanggapi fenomena tersebut, pebisnis sekaligus kreator konten Theo Derick dalam kanal YouTube pribadinya lewat sesi bertajuk #GibahBerfaedah memberikan pandangan terkait perdebatan ini. 

Menurutnya, penilaian apakah kuliah itu penting atau tidak sepenuhnya bergantung pada latar belakang ekonomi dan akses modal yang dimiliki oleh tiap individu. 

Baca Juga: Karier atau Kuliah Dulu? Dilema Anak Muda Ini Ternyata Tak Sesederhana yang Dibayangkan

Bagi masyarakat yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah atau tanpa fasilitas privilege finansial sejak lahir, ijazah dan akses pendidikan formal tetap menjadi batu loncatan paling realistis untuk mengubah nasib.

"Untuk orang-orang seperti saya dan mungkin seperti kalian, kita tidak punya senjata lain untuk menembus ekonomi kita selain melalui edukasi." Ujar Theo.

Pria yang mengawali perjalanan kariernya dari latar belakang keluarga sederhana ini mengingatkan agar generasi muda tidak mudah tergiur oleh narasi kesuksesan para tokoh dunia yang berhasil meski putus sekolah (drop out). 

Dia menilai terdapat salah kaprah publik saat membandingkan diri dengan figur seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg. 

Figur-figur legendaris tersebut mengambil keputusan meninggalkan bangku perguruan tinggi karena mereka telah memiliki momentum bisnis yang sangat besar dan didukung oleh jaring pertukaran ekonomi keluarga yang stabil. 

Bagi mereka, kuliah menjadi sebuah pilihan opsional.

Sebaliknya, bagi kalangan awam yang belum memiliki momentum bisnis nyata, menempuh pendidikan tinggi adalah jalan terbaik untuk menciptakan momentum tersebut sekaligus melatih kedisiplinan diri.

Nilai hakiki dari sebuah proses perkuliahan tidak melulu terletak pada lembar ijazah atau teori di dalam kelas. 

Keunggulan terbesar dari bangku perguruan tinggi justru berada pada ekosistem pendukungnya, seperti pembentukan pola pikir, ketahanan mental di bawah tekanan, serta perluasan jaringan pertemanan. 

Proses menyelesaikan tugas akhir, menghadapi ujian, hingga berinteraksi dengan dinamika kampus selama empat tahun secara tidak langsung menggembleng ketahanan mental mahasiswa agar terbiasa menghadapi tekanan di dunia kerja maupun bisnis kelak. 

Selain itu, lingkungan akademik juga dinilai sangat efektif untuk mengikis pola pikir yang kerap menyalahkan keadaan atas ketidakberuntungan ekonomi.

Berada di lingkungan kampus yang produktif memungkinkan seseorang menyerap pola pikir yang berorientasi pada solusi dan pengembangan diri.

"Kalau kamu belum punya momentum itu, edukasi jadi satu-satunya modal kita," 

Kendati demikian, kelemahan dalam sistem pendidikan nasional saat ini tidak menampik kenyataan. 

Salah satunya adalah beban kurikulum yang dinilai terlalu luas dan belum sepenuhnya mampu memetakan serta mengasah bakat spesifik dari masing-masing peserta didik secara personal. 

Namun, kekurangan sistem tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk bersikap skeptis secara total terhadap pentingnya menuntut ilmu.

Jika seseorang mendapatkan kesempatan dan fasilitas untuk mengenyam pendidikan, hal tersebut harus dimanfaatkan semaksimal mungkin tanpa banyak mengeluh. 

Bagi anak muda yang berlatar belakang pas-pasan, pendidikan formal maupun nonformal tetap merupakan investasi jangka panjang terbaik yang paling terjangkau untuk menembus keterbatasan ekonomi dan membuka pintu-pintu peluang baru di masa depan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
apakah kuliah itu penting Perguruan Tinggi pendidikan kuliah