RADARTUBAN — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru UNESA menggelar kegiatan Proyek Kepemimpinan bertajuk “Bermain Itu Sehat: Melawan Dampak Screen Time Berlebihan dengan Permainan Tradisional” di UPT SD Negeri Cingklung, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Kamis (10/9).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek Kepemimpinan mahasiswa PPG Calon Guru tersebut diikuti 60 siswa dan melibatkan 10 mahasiswa sebagai fasilitator.
Program dirancang untuk mengajak siswa memahami penggunaan gawai secara bijak sekaligus kembali mengenal aktivitas bermain yang melibatkan gerak, interaksi sosial, dan kebersamaan.
Baca Juga: Sebut Presiden "Cuma Foto-Foto", Mahasiswa Kalbar Cecar Gubernur Ria Norsan di Jalanan
Rangkaian kegiatan diawali dengan Senam Guru Indonesia yang diikuti siswa bersama mahasiswa. Aktivitas ini menjadi pembuka sebelum siswa mengikuti sesi edukasi mengenai screen time dan rangkaian permainan tradisional.
Melalui presentasi, tanya jawab, video, dan lembar kerja peserta didik, siswa diajak mengenali kebiasaan menggunakan layar dalam kehidupan sehari-hari.
Materi tidak diarahkan untuk menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, tetapi membantu mereka memahami pentingnya keseimbangan antara penggunaan gawai, aktivitas fisik, istirahat, belajar, dan bermain bersama teman.
Dari identifikasi awal yang dilakukan selama kegiatan, sebagian besar siswa mengaku menggunakan layar untuk hiburan lebih dari dua jam. Aktivitas setelah pulang sekolah juga banyak diisi dengan bermain gawai maupun bermain aktif.
Pengetahuan siswa mengenai permainan tradisional cukup beragam. Sebagian siswa mengenal sekitar satu hingga empat jenis permainan.
Tidak adanya teman bermain serta belum mengetahui cara memainkan permainan tertentu menjadi beberapa alasan yang disampaikan siswa ketika ditanya mengenai hambatan bermain.
Setelah sesi edukasi, siswa mengikuti praktik permainan tradisional selama kurang lebih 120 menit dengan sistem stasiun.
Enam permainan yang dimainkan adalah Gobak Sodor, Engklek, Lompat Tali, Egrang Batok, Boy-boyan, dan Dakon.
Setiap permainan menghadirkan pengalaman yang berbeda. Gobak Sodor dan Boy-boyan mengajak siswa banyak bergerak dan bekerja sama dalam kelompok.
Engklek, Lompat Tali, dan Egrang Batok mengasah koordinasi serta keseimbangan tubuh.
Sementara itu, Dakon memberikan ruang bagi siswa untuk berkonsentrasi, berhitung, dan menyusun strategi.
Suasana halaman sekolah pun berubah menjadi ruang bermain yang aktif. Siswa bergantian mencoba permainan, mengikuti aturan, bekerja sama dengan teman, hingga saling memberi semangat selama kegiatan berlangsung.
Baca Juga: Hemat Rp 4,5 Juta per Bulan, 3 Mahasiswa Jogja Sulap Kontrakan Jadi Farm Zero Waste
Kepala UPT SD Negeri Cingklung, Siti Nurhidayati, S.Pd.SD, menyambut positif kegiatan tersebut.
Menurutnya, siswa terlihat antusias dan bahagia ketika kembali mengenal permainan tradisional.
“Kegiatan ini sangat positif bagi siswa. Selain menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada gawai, permainan tradisional juga mengajarkan aktivitas fisik, kerja sama, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya,” ujarnya.
Dia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai proyek, tetapi dapat menjadi pembiasaan di sekolah, salah satunya melalui kegiatan Jam Main Tradisional saat istirahat serta kolaborasi dengan orang tua di rumah.
Pada sesi refleksi, siswa menunjukkan pemahaman mengenai dampak screen time berlebihan dan pentingnya mengatur waktu bermain gawai.
Mereka juga menyampaikan keinginan untuk kembali memainkan permainan tradisional dan lebih banyak bermain bersama teman pada waktu luang.
Guru UPT SD Negeri Cingklung, Iswanto, M.Pd., menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berkesan bagi siswa sekaligus inspirasi bagi guru.
“Alhamdulillah, sangat berkesan sekali. Kegiatan ini sangat menginspirasi anak-anak dan kami sebagai guru. Permainan yang disampaikan teman-teman mahasiswa akan menjadi referensi kami dalam kegiatan belajar dan mengajar,” ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Unirow Kelompok 28 Sosialisasikan Strategi Pemasaran Digital untuk UMKM Banjarsari
Ketua kelompok, Rahmad Zulham Assidiqqy Handryant, mengatakan Proyek Kepemimpinan tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa PPG Calon Guru untuk belajar menghadapi situasi pendidikan secara langsung.
Menurutnya, calon guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi di kelas, tetapi juga perlu memiliki kemampuan membaca kebutuhan siswa, merancang kegiatan yang relevan, serta membangun kolaborasi dengan sekolah dan lingkungan sekitar.
“Proyek Kepemimpinan kali ini memberikan pengalaman yang luar biasa bagi kami sebagai calon guru. Kami belajar beradaptasi dengan cepat, berkolaborasi, dan menyampaikan materi kepada siswa melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka,” kata Zulham.
Dia berharap kegiatan tersebut tidak hanya meninggalkan kesan selama satu hari, tetapi dapat menjadi pengalaman yang terus diingat siswa dan mendorong terbentuknya kebiasaan hidup aktif hingga mereka tumbuh dewasa.
“Harapan kami bukan sekadar anak-anak senang hari ini. Kami ingin mereka membawa pengalaman ini lebih lama, mengingat bahwa bermain, bergerak, bertemu teman, dan menggunakan gawai secara bijak merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat,” ujarnya.
Upaya menjaga keberlanjutan program juga dilakukan dengan menyerahkan buku “Ayo, Kita Bermain! Permainan Tradisional” kepada pihak sekolah. Buku tersebut disusun sebagai panduan sederhana agar siswa dan guru dapat kembali mempraktikkan permainan yang telah diperkenalkan.
Selain buku, tim menyerahkan 10 pasang egrang batok, 10 set dakon, lima lompat tali, satu pasang egrang bambu, enam bola Boy-boyan, serta 30 pin “Anak Hebat”.
Peralatan permainan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan siswa saat jam istirahat, kegiatan pembelajaran, maupun waktu luang sehingga aktivitas permainan tradisional tidak berhenti setelah program selesai.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPG Calon Guru berupaya menunjukkan bahwa edukasi mengenai screen time dapat dilakukan tidak hanya melalui pesan untuk mengurangi penggunaan gawai. Anak juga perlu diberi alternatif yang nyata, menarik, dan mudah dilakukan.
Permainan tradisional menjadi salah satu pilihannya. Di dalamnya terdapat aktivitas fisik, strategi, kerja sama, sportivitas, komunikasi, sekaligus pengalaman bermain bersama yang semakin penting di tengah keseharian anak yang dekat dengan layar.
Bagi mahasiswa PPG Calon Guru dan UPT SD Negeri Cingklung, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal dari kebiasaan yang lebih panjang untuk mengajak anak tetap akrab dengan teknologi, tanpa kehilangan kesempatan untuk bergerak, bermain, berteman, dan tumbuh sehat. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban