Punya IQ Tinggi Belum Cukup, Dokter Tirta Sebut Kunci Menjadi Cerdas Ada pada Kemauan Belajar

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 18:06 WIB
Dr.Tirta mengungkap perbedaan orang pintar dan orang cerdas . (Tangkapan layar Youtube Rintik Obrolan)
Dr.Tirta mengungkap perbedaan orang pintar dan orang cerdas . (Tangkapan layar Youtube Rintik Obrolan)

RADARTUBAN — Seberapa jauh seseorang bisa disebut pintar? Apakah cukup dengan memiliki nilai akademis tinggi dan gelar pendidikan?

Bagi dr. Tirta Mandira Hudhi, kepintaran tidak berhenti pada pencapaian akademis. Ada hal lain yang justru menentukan bagaimana seseorang bertumbuh, yakni kemampuan mengendalikan ego dan kemauan untuk terus belajar.

Dalam sebuah diskusi mengenai pengembangan diri dan pendidikan, dr. Tirta membagikan pengalaman yang membuatnya menyadari bahwa kepintaran akademis bukan satu-satunya bekal untuk  menghadapi kehidupan.

Ia mengaku sejak kecil terbiasa digembleng dengan pencapaian akademis. Sebagai anak tunggal, dirinya kerap memenangkan berbagai perlombaan dan bahkan memiliki skor IQ 148.

Baca Juga: RUU Sisdiknas Wajibkan Dosen Bergelar S3 dalam 10 Tahun, Kritik Keras Langsung Bermunculan dari Akademisi

Namun, perjalanan hidup membuat pandangannya terhadap kepintaran perlahan  berubah.

Salah satu titik baliknya terjadi ketika ia harus memendam keinginan menjadi dokter spesialis bedah ortopedi pada 2016.

Ia memilih tidak melanjutkan pendidikan spesialis karena mempertimbangkan kondisi keuangan dan tabungan orang tuanya yang telah memasuki masa pensiun.

Baginya dengan memilih  keputusan tersebut , menjadi bagian dari proses menurunkan ego. Ia menyadari bahwa keinginan pribadi tidak selalu harus menjadi prioritas ketika berhadapan dengan kondisi nyata.

“Orang yang pintar dan sukses yang tidak bisa mengontrol egonya itu akan hancur berantakan dan egonya akan kalah justru sama orang yang secara akademis tidak pintar tapi secara experience dia penting,” ujarnya.

Dr. Tirta mengungkap , perbedaan orang pintar dan orang cerdas terletak pada kemauan untuk terus belajar.

Seseorang yang merasa cukup setelah mendapatkan gelar dapat berhenti mengembangkan pengetahuannya. Sebaliknya, orang cerdas memahami bahwa belajar tidak memiliki garis akhir.

“Yang membedakan orang pintar dan orang cerdas adalah kalau dia sudah ngerasa lulus dapat gelar dan dia tidak membaca lagi, ilmunya selesai di situ,” katanya.

Pandangan itu berkaitan dengan pentingnya life-long learning. Dimana pengetahuan dapat membuka cara seseorang memahami dunia, meski tidak otomatis menjamin kesuksesan.

“Without knowledge kamu tuh enggak akan tahu dunia, dan knowledge itu bisa mengangkat derajat tapi tidak menjamin kesuksesan,” tuturnya.

Baca Juga: Ciri Orang Cerdas: Mengapa 3 Kebiasaan Santai Ini Malah Menunjukkan IQ Tinggi?

Ia juga menilai pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kebiasaan membaca perlu dibangun sejak dini, tidak hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga bacaan yang memperluas wawasan dan melatih kemampuan berpikir kritis.

Di lingkungan keluarga, orang tua juga memiliki peran penting dengan membiasakan anak berdiskusi dan menyampaikan pendapat.

Pemerintah juga perlu mendorong pemerataan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke.

Karena hasil pembangunan sumber daya manusia tidak dapat terlihat secara instan. Pendidikan bersifat jangka panjang dan hasilnya baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun.

“Uang yang dikeluarkan untuk pendidikan itu bukan expenses, tapi investment,” tegasnya.

Dari penjelasan Dr.Tirta dapat diambil kesimpulan bahwa , menjadi pintar mungkin dapat dimulai dari pencapaian akademis. Namun, menjadi cerdas membutuhkan kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap pengalaman, serta mampu mengendalikan ego.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
pintar IQ dr. Tirta cerdas Akademis