Kuliah Teknik Dianggap Lebih Berat, Kreator Ini Soroti Budaya Superioritas di Kalangan Mahasiswa

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 18:23 WIB
konten romantisasi Fakultas Teknik di media sosial yang disorot karena dinilai memunculkan kesan superioritas di kalangan mahasiswa. (Tangkapan layar youtube.com arraziii))
konten romantisasi Fakultas Teknik di media sosial yang disorot karena dinilai memunculkan kesan superioritas di kalangan mahasiswa. (Tangkapan layar youtube.com arraziii))

RADARTUBAN - Di lingkungan perguruan tinggi, terdapat stereotipe yang berkembang bahwa mahasiswa Fakultas Teknik memiliki kedudukan atau gengsi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan fakultas lainnya.

Persepsi tersebut kerap diperkuat oleh berbagai konten di media sosial yang menggambarkan seolah-olah dunia kampus hanya terbagi menjadi dua kelompok, yakni Fakultas Teknik dan fakultas lainnya.

​Fenomena romantisasi beban kuliah di jurusan teknik ini mendapat sorotan kritis dari kreator konten sekaligus alumni Teknik Informatika, Ghibran Arrazi.

Melalui video terbarunya, Ghibran menyoroti bagaimana penderitaan akademis, seperti tugas yang menumpuk, praktikum yang padat, jadwal begadang, hingga kurang tidur, sering kali diubah menjadi sebuah identitas yang dibanggakan secara berlebihan.

Baca Juga: Tak Tamat SD! Perajin Cobek Tulungagung Ini Sukses Biayai Anaknya Kuliah Kedokteran

Menurut Ghibran, ada perbedaan mendasar antara bangga terhadap proses perjuangan meraih gelar sarjana dengan menggunakan tekanan kuliah sebagai alasan untuk merasa lebih superior ketimbang mahasiswa dari disiplin ilmu lain.

​"Meromantisasi itu artinya ketika kita melihat sisi negatif, tapi kita membungkusnya seakan-akan semua pengalaman yang dilewati itu keren dan membanggakan. Di Teknik, begadang dianggap keren, tugas menumpuk dianggap bukti kualitas, dan stres dianggap hal wajib. Padahal kalau dilepas label anak tekniknya, beberapa hal tersebut adalah masalah yang sebenarnya harus diperbaiki dari sistem kampusnya," ujar Ghibran Arrazi dalam unggahan videonya.

​Ia menjelaskan bahwa doktrin superioritas ini telah terbentuk sejak masa sekolah, di mana mata pelajaran berbasis eksakta dan hitungan sulit seperti matematika kerap dijadikan tolok ukur tunggal kecerdasan seseorang.

Pandangan tersebut kemudian terbawa hingga dunia perkuliahan, sehingga timbul hierarki tak tertulis di tengah masyarakat akademis.

​Selain itu, dorongan untuk mencari validasi sosial di media sosial turut memperkuat budaya ini.

Pengorbanan waktu, biaya, dan energi yang besar selama menempuh pendidikan membuat sebagian mahasiswa merasa perlu membuktikan kepada publik bahwa pilihan jurusan mereka sangat berharga (worth it).

 Budaya ini juga sering dipelihara oleh doktrin alumni atau senior yang membentuk pola pikir bahwa anak teknik harus berbeda dan serba keras.

Kendati demikian, Ghibran tidak menampik bahwa pendidikan di Fakultas Teknik memang membentuk mental problem solving, kemampuan teknis di lapangan, serta tingkat solidaritas yang sangat kuat antar-mahasiswa.

Namun, kelebihan tersebut hendaknya tidak dijadikan bahan untuk membanding-bandingkan apalagi merendahkan bidang studi lain.

​"Lu bangga dengan fakultas lu karena tugasnya banyak dan lu bisa menyelesaikan itu, oke-oke saja. Cuma bukan berarti lu merasa superior daripada yang lainnya. Jurusan lain seperti Kedokteran, Farmasi, atau Manajemen juga punya masalah dan tingkat kepusingannya sendiri-sendiri. Di kampus, selagi sama-sama menuntut ilmu, semua mahasiswa itu pada dasarnya setara," tegasnya.

Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi dunia kemahasiswaan agar fokus pada pengembangan kompetensi diri dan kolaborasi lintas disiplin ilmu, ketimbang terjebak dalam budaya feodalisme akademis yang memecah belah.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
superior Perguruan Tinggi Fakultas Teknik begadang