Lulusan Sarjana Banyak Menganggur? Ilmuwan NTT Ungkap Masalah Pendidikan Indonesia

Nadiyatul Ul Ya • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 10:50 WIB
Grandprix T. M. Kadja Ilmuwan muda asal (NTT) yang namanya masuk dalam jajaran top 2% ilmuwan dunia. (Tangkapan layar itb.ac.id)
Grandprix T. M. Kadja Ilmuwan muda asal (NTT) yang namanya masuk dalam jajaran top 2% ilmuwan dunia. (Tangkapan layar itb.ac.id)

RADARTUBAN - Diskursus mengenai mutu pendidikan, penguasaan sains, hingga tantangan lulusan sarjana di Indonesia kembali menjadi sorotan. 

Ilmuwan muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang namanya masuk dalam jajaran top 2% ilmuwan dunia, Dr. Grand Prix Tom Raya Smart Kaja, membagikan pandangan mengenai pentingnya budaya riset, pemerataan pendidikan, dan penguasaan teknologi bagi masa depan bangsa.

Hal tersebut diungkapkan dalam siniar CEMAS - Cerita Masyarakat yang mengupas perjalanan hidupnya dari masa kecil di pesisir Kupang hingga berkiprah sebagai akademisi dan peneliti di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebagai seorang saintis, ia menekankan pentingnya menjaga sikap skeptis dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Baca Juga: Atlantis Misteri Peradaban Yang Hilang, dan Menjadi Teka Teki Para Ilmuan Ber Abad Abad, Berikut Kisahnya!

Menurutnya, “seorang peneliti tidak boleh langsung cepat percaya pada hasil temuannya sendiri sebelum diuji secara berulang-ulang hingga mematahkan segala keraguan.”

Disparitas Pendidikan dan Pentingnya Penguasaan Teknologi

Menanggapi isu tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia, Dr. Grand Prix menilai bahwa permasalahan tersebut harus dilihat dari perspektif makro yang lebih luas.

Ia menyoroti masih adanya disparitas kualitas pendidikan yang cukup tajam antara wilayah di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa. 

Menurutnya, pemerataan mutu pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, serta kehadiran universitas unggulan di berbagai pelosok daerah seperti Aceh hingga Papua, merupakan kunci penting untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional.

"Kemajuan suatu negara itu berkorelasi langsung dengan tingkat pendidikan. Harus kita akui bahwa kualitas pendidikan di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa itu masih ada disparitas yang cukup jauh. Kalau misalkan universitas besar sekelas ITB, UI, itu juga ada di ujung Aceh, ada di ujung Papua, itu kan jadi sesuatu yang sangat baik dengan kekhasannya masing-masing," ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan urgensi penguasaan teknologi melalui penguatan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Merujuk pada pengalaman negara-negara maju dan regional seperti Korea Selatan, Tiongkok, hingga Vietnam, penguasaan teknologi merupakan jalan utama bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).

Solusi Konkret: Kolaborasi dan Evaluasi Sistem Pendidikan

Untuk menghadapi tantangan global dan domestik beliau mengajak para akademisi dan lulusan perguruan tinggi untuk memperkuat jejaring kolaborasi. 

Membangun critical mass atau masa kritis penggerak perubahan dinilai sangat krusial agar dampak positif di bidang sains dan pendidikan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Ketika ditanya mengenai langkah konkret yang dapat diambil untuk membenahi sistem pendidikan, ia secara terbuka mengusulkan perlunya evaluasi pada standar kelulusan nasional demi memperkuat fondasi kompetensi siswa.

"Kalau Anda diberi satu kesempatan untuk mengubah satu hal dalam pendidikan, apa yang Kak Grand Prix akan ubah? Yang akan saya ubah, kembalikan Ujian Nasional," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa para siswa dan institusi pendidikan untuk benar-benar menguasai materi fundamental, seperti sains dan matematika tingkat lanjut, yang kerap menjadi kendala bagi mahasiswa ketika memasuki dunia perkuliahan tingkat lanjut.

Di tengah berbagai peluang berkarier di kancah internasional, Dr. Grand Prix memilih untuk tetap mengabdikan diri di tanah air.

Bagi dirinya, kenyamanan hidup di rumah sendiri dengan segala dinamika dan kekurangannya merupakan panggilan moral untuk terus berkontribusi membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Dr. Grand Prix ilmuan pengangguran pendidikan lulusan sarjana