Era AI Makin Cepat, Praktisi Lingkungan Ingatkan Kampus agar Tak Cetak Pengangguran Terdidik

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 17:29 WIB
Ilustrasi Lingkungan Kampus. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi Lingkungan Kampus. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Persoalan krisis lingkungan dan kesiapan tenaga kerja di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membutuhkan kolaborasi holistik dari berbagai pihak, khususnya perguruan tinggi, pemerintah, hingga sektor industri.

Pengelolaan lingkungan tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada masyarakat, melainkan harus melibatkan peran produsen dan ketegasan regulasi pemerintah secara terintegrasi.

Praktisi Lingkungan sekaligus Pendiri dan CEO Environesia, Saprian, menegaskan pentingnya perguruan tinggi untuk terus mengevaluasi kurikulum pendidikan agar lulusannya tetap relevan dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi yang begitu cepat.

"Jangan sampai di zaman serba AI ini kampus hanya mencetak generasi pekerja bahkan enggak siap kerja, akhirnya kita hanya menciptakan pengangguran terdidik," ujar Saprian dalam tayangan kanal YouTube CEMAS (Cerita Masyarakat).

Saprian menjelaskan bahwa penyelesaian masalah lingkungan seperti pengelolaan sampah tidak dapat dilihat dari satu sisi saja.

Baca Juga: Jepang Sulap Area Parkir Jadi Taman Berbunga Ramah Lingkungan, Solusi Kreatif Atasi Krisis Iklim Kota

Terdapat tiga aktor utama yang saling terkait dan memegang tanggung jawab besar, yaitu masyarakat sebagai pengguna, produsen yang menghasilkan kemasan atau produk, serta pemerintah yang bertugas menyusun regulasi, memberikan pengawasan, dan menjatuhkan sanksi jika terjadi pelanggaran.

Selain itu, ia juga menyoroti peluang karier berbasis keberlanjutan (green jobs) yang kini kian terbuka lebar di Indonesia. Sertifikasi kompetensi di bidang lingkungan saat ini telah didorong oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memenuhi standar industri global. 

Dengan demikian, kampus dituntut untuk bergerak cepat dan tidak tertinggal agar para mahasiswa tidak hanya menguasai teori, melainkan juga memiliki keahlian praktis yang siap diterapkan di dunia kerja.

Di akhir pembahasan, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak tinggal diam ketika melihat tindakan kerusakan lingkungan, seperti pencemaran maupun pembalakan liar.

Kesadaran kolektif serta keberanian untuk bersuara menjadi kunci penting guna menjaga kelestarian bumi di masa mendatang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
AI Perguruan Tinggi lingkungan kampus