Bukan Salah Dengar, Begini Kode Bahasa Jawa Khas Tuban yang Unik

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 17:26 WIB
Ilustrasi seorang guru tengah mengajarkan bahasa jawa khas Tuban. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi seorang guru tengah mengajarkan bahasa jawa khas Tuban. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Pernah ngobrol dengan orang Tuban, lalu mendadak merasa seperti sedang mendengar bahasa Jawa versi lain?

Tenang. Bisa jadi bukan karena salah dengar. Ada sejumlah kosakata, bunyi, hingga gaya pengucapan yang memang menjadi warna khas percakapan masyarakat Tuban.

Kajian kebahasaan yang tersimpan di repositori Kemendikbud menunjukkan bahasa Jawa di Tuban memiliki kekhasan pada unsur leksikal dan bunyi. 

Tuban sendiri termasuk kawasan budaya pesisir yang memiliki variasi bahasa Jawa tersendiri.

Baca Juga: Menengok Kampung Jawa di Tiongkok, Tempat Budaya dan Bahasa Nusantara Tetap Lestari

Ada “Leh” di Ujung Kalimat

Salah satu yang paling gampang dikenali adalah “lèh”.

Kata pendek ini bisa muncul di ujung kalimat dengan rasa yang berbeda-beda. 

Dalam kalimat perintah, nuansanya bisa seperti “dong”. 

Dalam kalimat berita terasa seperti “lho”. 

Sedangkan dalam pertanyaan dapat berfungsi seperti “kan”.

Misalnya: “Ojo suwe-suwe lèh!”

Bagi penutur lokal, terdengar biasa. Bagi orang luar, bisa jadi langsung mikir: “Leh itu siapa?”

“Kipasem” Bukan Nama Barang Baru

Keunikan lain muncul dari akhiran “-êm” dan “-nêm” yang digunakan untuk menunjukkan kepemilikan atau makna “-mu”.

Kata berakhiran konsonan dapat mendapat akhiran -êm, seperti kipasêm yang berarti kipasmu. 

Baca Juga: Karya Koes Plus Hebohkan Kaidah Bahasa Jawa, Salah Satunya Lagu Bunder-Bunder; Ini Liriknya

Sementara kata berakhiran vokal dapat menggunakan -nêm, misalnya bolonêm yang berarti temanmu. Pola ini juga dicatat dalam tulisan yang membahas dialek Tuban.

“Ndhêngêr” Jangan Salah Tangkap

Ada pula kosakata yang bisa bikin pendatang bengong.

Ndhêngêr berarti paham atau mengerti. Jadi ketika ada yang bertanya, “Wis ndhêngêr?”, maksudnya bukan memanggil nama seseorang.

Kosakata lainnya juga tak kalah unik. Mbaít berarti lihai, ngêmpròs berarti berbohong, sedangkan mlété merujuk pada sifat sombong.

Bukan Cuma Kata, Bunyi Juga Punya Gaya

Yang menarik, perbedaannya tidak berhenti pada kosakata.

Sejumlah kata dapat terdengar berbeda ketika diucapkan. Misalnya eròh untuk “tahu”, jirèh untuk “penakut”, dan putèh untuk “putih”. 

Variasi bunyi seperti ini ikut membentuk karakter tutur masyarakat setempat.

Namun, jangan buru-buru menganggap semua warga Tuban menggunakan kosakata yang sama. 

Bahasa hidup mengikuti wilayah, usia, lingkungan pergaulan, dan kebiasaan penuturnya.

Baca Juga: Makna Filosofis di Balik Angka 11, 21, 25, 50, dan 60 dalam Bahasa Jawa yang Berbeda Penyebutannya dari Angka Lainnya

Bahasa Lokal, Identitas yang Jangan Hilang

Di tengah percakapan yang makin dipenuhi istilah media sosial, bahasa lokal justru menjadi penanda identitas yang menarik.

Bagi warga Tuban, “lèh”, “ndhêngêr”, “ngêmpròs”, hingga akhiran “-êm” dan “-nêm” mungkin terdengar sehari-hari.

Tetapi bagi orang luar, kata-kata itu bisa menjadi kode lokal yang baru terbuka setelah sering nongkrong dan ngobrol bareng warga Tuban.

Jadi, kalau suatu hari ada yang bilang, “Wis ndhêngêr, lèh?”, sekarang setidaknya sudah tahu harus menjawab apa.

Wis ndhêngêr? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Tuban kosakata bahasa jawa