Bukan Sekadar Ijazah, Novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas Bicara Arti Pendidikan

Nadia Aulia • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 08:35 WIB
Gramedia mengulas novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya JS Khairen. (Tangkapan Layar Youtube Gramedia)
Gramedia mengulas novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya JS Khairen. (Tangkapan Layar Youtube Gramedia)

RADARTUBAN — Gelar sarjana bukan jaminan seseorang siap menghadapi kehidupan. Pesan itu menjadi napas utama novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya JS Khairen.

Kampus semestinya tidak hanya mencetak sarjana berijazah, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu berpikir dan menghadapi kehidupan.

Pesan tersebut tergambar dalam novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya Jombang Santani Kiran atau JS Khairen.

Novel ini mengangkat kehidupan tujuh mahasiswa dengan latar belakang berbeda di Kampus Udel, sebuah kampus yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan perkuliahan sekaligus kehidupan.

Kampus Udel digambarkan sebagai ruang belajar yang tidak hanya berisi teori dan hafalan. Kehadiran Ibu Lira Estrini, dosen konseling dengan metode mengajar yang unik, menjadi salah satu bagian yang menonjol.

Pada pertemuan awal, ia bahkan membawa tikus ke dalam kelas untuk mendorong mahasiswa keluar dari zona nyaman.

"Kampus Udel ini justru membawa dan membuka mata mahasiswanya tentang arti pendidikan yang sebenarnya. bahwa pendidikan di kampus sebenarnya adalah tentang pengembangan diri, tentang berkontribusi, dan tentang memberikan yang terbaik," jelas narator ulasan Gramedia.

Baca Juga: Novella Maulida Raih Juara 3 Festival Coding Jawa Pos Radar Tuban, Kesabaran Jadi Kunci Suksesnya

Hal itu terasa relevan bagi sarjana saat ini. Gelar akademik memang menjadi salah satu hasil dari proses pendidikan, tetapi kehidupan setelah kampus menghadirkan persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan hafalan atau teori.

Dalam novel, mahasiswa juga diajak menganalisis persoalan, membaca situasi sosial, mengembangkan keterampilan, serta menghadapi berbagai tantangan. 

"Mereka enggak hanya belajar soal teori dan hafalan doang, tapi justru mereka lebih jauh soal itu. Mereka menganalisis, mereka membaca situasi sosial," lanjut narator.

Tokoh-tokohnya pun memiliki persoalan masing-masing. Ogi digambarkan menyukai teknologi dan gim, tetapi pernah mengalami drop out.

Ranjit merupakan mahasiswa rajin yang ingin mengubah taraf hidup. Arco dikenal sebagai "tukang foto", sedangkan Gala merupakan pewaris bisnis keluarga yang ingin mandiri. Ada pula Sania yang bercita-cita menjadi penyanyi dan Juisa yang dikenal pintar serta pekerja keras.

Keberagaman tersebut membuat perjalanan mereka tidak hanya berbicara tentang kuliah saja , tetapi juga pilihan hidup, kegagalan, keberanian, dan usaha menemukan jalan masing-masing.

Baca Juga: Status Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bakal Diputuskan 20 Juli, Ini Jadwal Praperadilan Roy Suryo

Hal itu turut dirasakan pembaca. Ziah dalam ulasannya di Goodreads menulis,  "Novel ini mengajarkan saya bahwa sukses itu enggak hanya dari kuliah, kuliah hanya menjadi salah satu jalan menuju sukses."

Sementara itu, Sri Hidayati menilai novel ini, menggambarkan kehidupan mahasiswa dari berbagai sisi.

 "Banyak masalah ditulis dalam buku ini dan memang benar adanya di kehidupan nyata," tulisnya.

Melalui kisah para mahasiswa Kampus Udel, Kami (Bukan) Sarjana Kertas menghadirkan refleksi bahwa pendidikan tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar. Seperti mendorong pembaca untuk 

"berani dalam menggapai mimpi, berani dalam mengambil risiko, kemudian berani menghadapi tantangan, dan kemudian pantang menyerah."

Bagi sarjana zaman sekarang, pesan itu menjadi pengingat bahwa selembar ijazah adalah hasil perjalanan pendidikan, bukan akhir dari proses belajar.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
js khairen novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas pendidikan ijazah