RADARTUBAN - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Stella Christie mendorong Indonesia terus berinvestasi pada riset dan talenta tanpa harus menunggu sistem pendidikan maupun kondisi ekonomi berada dalam kondisi sempurna.
Hal itu disampaikan Stella Christie dalam program VVIP yang tayang di kanal YouTube Nalar TV Indonesia.
Dalam pembahasannya, dia menyoroti perkembangan pendidikan di Amerika Serikat dan Tiongkok serta strategi kedua negara dalam membangun talenta unggul.
Stella mencontohkan Tiongkok yang menurutnya telah melakukan investasi pada talenta dan riset sejak beberapa dekade lalu, ketika kondisi ekonominya belum seperti sekarang.
Menurut Stella, investasi tersebut berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem. Karena itu, Indonesia dinilai tidak perlu menunggu seluruh persoalan selesai sebelum mulai memperkuat riset dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kalau kita menunggu, kita selama-lamanya itu akan punya kesenjangan dengan negara apapun. Jadi kita tidak boleh menunggu,” ujar Stella.
Perkuat Hubungan Kampus dan Industri
Stella juga mendorong peningkatan dukungan terhadap peneliti dan dosen.
Menurutnya, penguatan sumber daya manusia di bidang riset perlu berjalan beriringan dengan hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia industri.
Keterhubungan tersebut penting agar penelitian yang dilakukan di kampus tidak berhenti pada hasil akademik, tetapi dapat menjawab kebutuhan industri dan memberikan dampak terhadap perekonomian.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah pernyataan Stella sepanjang 2026 mengenai pentingnya memperkuat hubungan antara akademisi, peneliti, dan industri.
Dalam forum Indonesia-China Education-Industry Collaboration Summit 2026, misalnya, ia menekankan kerja sama pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari penguatan ekosistem Indonesia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mencatat Stella mendorong kolaborasi internasional untuk mempercepat pengembangan ekosistem sains dan teknologi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, serta dunia industri.
Fokus pada Bidang Strategis
Menurut Stella, Indonesia memiliki banyak talenta yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah menentukan bidang strategis yang sesuai dengan potensi Indonesia, kemudian memusatkan sumber daya agar pengembangannya memberikan dampak lebih besar.
“Kalau dikumpulkan secara masif dampaknya juga lebih terasa,” kata Stella.
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam dorongannya agar Indonesia mempelajari model pengembangan klaster inovasi dan teknologi dari Tiongkok.
Stella sebelumnya menyebut pengembangan kawasan inovasi dapat menjadi salah satu cara mempertemukan talenta, riset, teknologi, dan kebutuhan industri.
Baca Juga: Mengapa Gen Z Disebut Generasi Depresi? Ini Penjelasan Psikolog dan Hasil Penelitian
Menurutnya, penguatan riset tidak hanya berkaitan dengan jumlah penelitian yang dihasilkan.
Ekosistem yang menghubungkan peneliti, perguruan tinggi, industri, dan talenta juga diperlukan agar pengetahuan dapat berkembang menjadi inovasi yang memiliki manfaat lebih luas.
Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Inovasi
Stella berharap perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan menghasilkan lulusan.
Institusi pendidikan tinggi juga diharapkan menjadi bagian dari pengembangan teknologi dan penggerak perekonomian berbasis pengetahuan.
Upaya tersebut membutuhkan investasi jangka panjang terhadap peneliti, dosen, talenta muda, serta infrastruktur riset.
Di sisi lain, hubungan dengan industri diperlukan agar kebutuhan dunia usaha dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan penelitian dan inovasi.
Dengan pendekatan tersebut, investasi pada riset dan talenta dapat berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem pendidikan dan penguatan ekosistem inovasi.
Bagi Stella, langkah tersebut tidak harus menunggu semua kondisi menjadi ideal. Pengembangan talenta dan riset justru perlu dimulai sejak sekarang agar Indonesia tidak semakin tertinggal dalam persaingan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni