Pendidikan Indonesia Disorot, Dr. Bagus Muljadi Singgung Nasib Guru yang Belum Sejahtera

Sita Devi Alfiyah • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 13:37 WIB
Guru yang tengah mengajar siswanya. (unsplash.com/ husniatisalma)
Guru yang tengah mengajar siswanya. (unsplash.com/ husniatisalma)

RADARTUBAN - Kesejahteraan guru dan integritas menjadi dua persoalan yang disorot dalam pembahasan mengenai kualitas pendidikan Indonesia.

Kecerdasan akademis dinilai belum cukup untuk membangun bangsa jika tidak diimbangi karakter yang kuat dan sistem pendidikan yang mendukung.

Hal tersebut dibahas pengusaha Indra Priawan bersama akademisi sekaligus peneliti Indonesia di Universitas Nottingham, Dr. Bagus Muljadi, dalam program Dads'talk yang diunggah melalui kanal YouTube Nikita Willy Official.

Baca Juga: Gaji PPPK Guru dan Nakes Daerah Ditanggung APBN 2027, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp23 Triliun

Indra menilai, Indonesia sebenarnya memiliki banyak orang pintar.

Namun, tantangan muncul ketika kecerdasan tidak disertai integritas dan justru digunakan untuk kepentingan yang merugikan.

"Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar, tetapi tantangannya adalah banyaknya orang pintar yang justru tidak memiliki integritas atau menggunakan kepintarannya untuk hal yang salah," ujar Indra.

Kesejahteraan Guru Jadi Sorotan

Menanggapi hal tersebut, Bagus Muljadi menilai persoalan pendidikan juga berkaitan erat dengan cara negara menghargai profesi guru.

Menurutnya, sulit mengharapkan kualitas pengajaran yang tinggi apabila kebutuhan dasar tenaga pendidik belum terpenuhi.

"Pendidikan di Indonesia bermasalah salah satunya karena kondisi gurunya yang masih melarat, sehingga sulit menuntut kualitas pengajaran yang tinggi jika kesejahteraan dasar mereka belum terpenuhi," tutur Bagus.

Dia membandingkan kondisi tersebut dengan negara-negara yang menempatkan guru sebagai profesi terhormat, memiliki standar seleksi ketat, serta menawarkan kompensasi finansial yang memadai.

Sementara di Indonesia, sebagian guru, terutama tenaga honorer di daerah, masih menghadapi persoalan penghasilan.

Tekanan ekonomi dapat menyulitkan mereka untuk sepenuhnya berkonsentrasi pada kegiatan mengajar dan pengembangan pembelajaran.

Pendidikan Tak Cukup Mengandalkan Hafalan

Diskusi tersebut juga menyoroti perlunya pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hafalan dan nilai akademis.

Kemampuan berpikir kritis, empati, serta integritas dinilai perlu mendapat perhatian dalam proses pendidikan.

Pembenahan sistem pendidikan, menurut pembahasan itu, perlu dimulai dari penguatan kesejahteraan dan perlindungan profesi guru.

Dengan dukungan yang memadai, tenaga pendidik diharapkan dapat menjalankan perannya dalam membangun pengetahuan sekaligus karakter peserta didik. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
tenaga pendidik sumber daya manusia kesejahteraan guru pendidikan Indonesia