Dr. Tirta Ingatkan Punya Gelar Tinggi Saja Tak Cukup. Ternyata Ini yang Lebih Penting

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 08:23 WIB
Lulusan sarjana menghadapi tantangan memasuki dunia kerja. (Radar Tuban/ AI)
Lulusan sarjana menghadapi tantangan memasuki dunia kerja. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Gelar akademik yang tinggi nyatanya tidak otomatis menjamin seseorang mampu menghadapi persaingan dunia kerja.

Tanpa kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap kritik, dan mengembangkan keahlian, pencapaian pendidikan bisa kehilangan relevansinya ketika zaman terus berubah.

Praktisi kesehatan, pengusaha, sekaligus kreator konten dr. Tirta Mandira Hudhi menyoroti hal tersebut dalam video bertajuk "dr. Tirta Blak-blakan: Privilege, Ego, dan Kenapa Gelar Saja Tak Cukup".

Baca Juga: Bukan Sekadar Gelar, dr. Tirta Ungkap Alasan Kuliah S2 Masih Penting

Dalam pembahasannya, dr. Tirta mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pencapaian gelar atau status sosial.

Proses belajar juga perlu membentuk pola pikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, serta kesediaan menerima pengetahuan baru.

Sebab, merasa sudah cukup pintar justru dapat menghambat perkembangan diri.

Seseorang yang terlalu terpaku pada pencapaian masa lalu berisiko menutup diri dari masukan dan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya.

"Sekolah itu bukan sarana untuk menjadi kaya raya, tetapi untuk memperbaiki pola pikir dan mendapatkan ilmu yang tidak dipelajari di rumah. Ketika seseorang merasa sudah paling pintar hanya karena memiliki gelar, di situlah awal dari kemunduran dirinya," tegas dr. Tirta dalam pemaparannya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai pendidikan tidak hanya diukur dari nama besar institusi atau gelar yang berhasil diraih.

Kemampuan menerapkan ilmu, beradaptasi, dan terus mengembangkan diri juga menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan.

Gelar Tinggi Tak Boleh Membuat Seseorang Berhenti Belajar

Pendidikan tinggi dapat memberikan bekal pengetahuan dan cara berpikir yang lebih terstruktur. 

Namun, gelar dari institusi ternama bukan jaminan seseorang akan selalu unggul dalam setiap situasi.

Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuat kebutuhan keterampilan terus berubah. Pengetahuan yang relevan saat ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan beberapa tahun mendatang.

Karena itu, kemauan belajar sepanjang hayat atau lifelong learning menjadi semakin penting.

Proses belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui pengalaman kerja, membaca, berdiskusi, dan mengevaluasi kesalahan.

Selain itu, seseorang perlu menjaga kerendahan hati ketika menghadapi pengetahuan baru.

Latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun privilege yang dimiliki seharusnya tidak menjadi alasan untuk merasa lebih unggul atau mengabaikan pandangan orang lain.

Sebaliknya, keterbukaan terhadap kritik dapat membantu seseorang mengenali kekurangan dan memperbaiki cara berpikir.

Dengan begitu, pendidikan tidak hanya menghasilkan pencapaian akademik, tetapi juga membentuk kemampuan untuk terus bertumbuh.

Bangun Keahlian agar Tak Mudah Tergantikan

Selain menekankan pentingnya belajar, dr. Tirta juga menyoroti perlunya membangun nilai diri atau value.

Di tengah persaingan dunia kerja, seseorang perlu memiliki kemampuan yang bisa memberikan kontribusi nyata dan membedakannya dari orang lain.

Salah satu caranya adalah mengembangkan keahlian khusus atau specialization.

Keahlian tersebut perlu dibangun melalui latihan, pengalaman, dan konsistensi, bukan sekadar mengandalkan gelar akademik.

Dr. Tirta menekankan pentingnya membuat kemampuan diri memiliki nilai yang tidak mudah digantikan.

"Supaya kita tidak gampang digantikan, maka buatlah value dirimu agar sulit untuk disubstitusi. Kamu harus memiliki kemampuan dan keahlian spesifik yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang lain." sambungnya.

Meski demikian, membangun nilai diri tidak berarti seseorang harus menguasai semua hal sekaligus.

Memperdalam bidang yang ditekuni, memahami kebutuhan lingkungan kerja, dan terus memperbarui keterampilan dapat menjadi langkah untuk meningkatkan daya saing.

Di sisi lain, keputusan dalam karier maupun bisnis juga perlu disertai pertimbangan matang.

Kerja keras tetap penting, tetapi perlu diimbangi kemampuan menilai risiko agar keputusan tidak hanya didasarkan pada emosi atau dorongan sesaat.

Gelar akademik memang dapat menjadi modal awal, tetapi bukan satu-satunya penentu perjalanan seseorang. 

Kemauan untuk terus belajar, mengelola ego, dan membangun keahlian yang relevan menjadi bagian penting agar kemampuan diri tetap berkembang di tengah perubahan zaman. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
pedidikan keahlian gelar akademik nilai diri belajar