RADARTUBAN – Peran guru dinilai semakin penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan karakter anak di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain menyampaikan materi pelajaran, guru perlu membimbing siswa agar mampu mempertanyakan, memahami, dan menyaring informasi yang mereka temui.
Pandangan tersebut disampaikan Romo Augustinus Setyo Wibowo dalam perbincangan di kanal YouTube Gita Wirjawan.
Baca Juga: Nasib Guru Honorer Indonesia Disorot, dari Perjuangan Menyeberangi Sungai hingga Honor Rp 1 Juta
Dia membahas tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial yang semakin dekat dengan kehidupan anak.
Romo Setyo mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran filsuf Yunani, Plato, mengenai pentingnya pendidikan sejak usia dini.
Menurutnya, pendidikan dan lingkungan berpengaruh besar terhadap pembentukan cara berpikir serta kebiasaan seseorang.
Dalam konteks itu, guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan banyak anak.
Peningkatan kualitas guru pun menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembenahan sistem pendidikan.
“Guru kalau menurut saya kita perlu reformasi,” ujar Romo Setyo dalam tayangan tersebut.
Guru Perlu Membentuk Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Romo Setyo, tugas guru tidak cukup hanya memberikan pengetahuan kepada siswa.
Guru juga perlu membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir agar tidak mudah menerima informasi begitu saja.
Kemampuan tersebut semakin dibutuhkan karena anak berhadapan dengan beragam informasi melalui gawai dan media sosial.
Penggunaan media sosial secara berlebihan juga menjadi perhatian, terutama ketika anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar tanpa pendampingan yang memadai.
Dalam situasi tersebut, anak berpotensi menerima informasi tanpa memeriksa sumber maupun kebenarannya terlebih dahulu.
Karena itu, pendidikan perlu membekali mereka dengan kemampuan untuk menilai informasi secara kritis.
Romo Setyo menghubungkan persoalan tersebut dengan kondisi post-truth, yakni situasi ketika emosi dan keyakinan pribadi dapat lebih memengaruhi penilaian seseorang dibandingkan fakta.
Tantangan ini membuat pembelajaran berpikir kritis semakin relevan bagi generasi muda.
Membiasakan Anak Bertanya di Tengah Arus Informasi
Menurut Romo Setyo, pendampingan anak tidak cukup hanya dilakukan dengan membatasi penggunaan teknologi.
Anak juga perlu dibiasakan untuk bertanya, memeriksa informasi, dan memahami alasan di balik suatu pernyataan.
Dalam hal ini, pemikiran Sokrates mengenai pentingnya bertanya dapat menjadi gambaran dalam proses pendidikan.
Guru tidak hanya berperan sebagai pemberi jawaban, tetapi juga perlu mendorong siswa mencari alasan, menguji informasi, dan mengolah pengetahuan yang diterima.
“Kalau ada 3,5 juta Sokrates, jadi ini bareng,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya membangun kebiasaan berpikir kritis secara luas.
Guru diharapkan dapat mendorong siswa untuk aktif bertanya dan tidak sekadar menerima informasi tanpa proses pemahaman.
Dengan demikian, menghadapi tantangan era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi.
Kualitas pendidikan dan peran guru dalam membentuk pola pikir anak juga menjadi bagian penting agar generasi muda mampu menyaring informasi serta menggunakan teknologi secara lebih bijak. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari