Grand Launching Institut Kiai Haji Abdul Matin (INKAMA) Tuban: Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren

Ahmad Atho'illah • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:33 WIB
Dirintis sejak 1998 dari Madrasah Diniyah hingga Ma
Dirintis sejak 1998 dari Madrasah Diniyah hingga Ma'had Aly, Ponpes Sunan Bejagung Tuban kini resmi mengembangkan kampus INKAMA untuk mencetak santri adaptif. (Radar Tuban)

RADARTUBAN - Cita-cita yang telah lama diikhtiarkan oleh KH Abdul Matin Djawahir, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, akhirnya terwujud.

Hari ini (11/10/2026), di pagi yang penuh berkah dan bertepatan dengan Wisuda ke-2 Ma’had Aly Sunan Bejagung, Institut Kiai Haji Abdul Matin secara resmi di-launching.

Berangkat dari pondok pesantren yang dirintis oleh Mbah Matin—sapaan karib KH Abdul Matin Djawahir—pada medio 1998, secara perlahan, ponpes yang berada di depan area makam Sunan Bejagung Kidul di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, itu bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang terus beradaptasi dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Baca Juga: Rayakan Dies Natalis ke-40, Universitas Sunan Bonang Gelar USB Run Fest

Dari ponpes, kemudian mengembangkan Madrasah Diniyah Ula dan Wustho, Raudlotul Athfal (RA)/TKA/TPA/TQA, Madrasah Ibtidaiyah (MI), SMP Islam, Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), lalu Ma'had Aly Sunan Bejagung.

Dan kini, setelah melalui proses ikhtiar yang begitu panjang, impian lama Mbah Matin akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Mengusung semangat pendidikan berbasis pesantren, kini Ponpes Sunan Bejagung telah memiliki kampus sendiri. Namanya, Institut Kiai Haji Abdul Matin (INKAMA).

Rektor INKAMA Tuban, Dr. K. Muammar Najib, S.Pd.I., M.Pd. menuturkan, izin operasional kampus tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 857 Tahun 2026 tentang Izin Pendirian Institut Kiai Haji Abdul Matin.

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur, cita-cita yang telah lama diikhtiarkan beliau (KH Abdul Matin Djawahir) akhirnya terwujud. Dan hari ini (Minggu, 11/10/2026), Ponpes Sunan Bejagung resmi memiliki perguruan tinggi,’’ kata Gus Najib—sapaan akrab doktor Muammar Najib.

Seperti halnya pendirian kampus yang membutuhkan proses ikhtiar cukup panjang, nama INKAMA juga melalui proses musyawarah yang tidak sebentar. Disampaikan Gus Najib, nama INKAMA murni dari hasil konsensus tim pendiri.

‘’Ada proses diskusi yang sangat dinamis sebelum nama INKAMA disepakati. Dan meskipun namanya (kampus, red) merujuk nama beliau (KH Abdul Matin), namun beliau tidak tahu menahu terkait nama ini. Sepenuhnya dipasrahkan kepada tim pendiri. Setelah itu baru kami sampaikan kepada beliau untuk meminta restu dan nasihat,’’ tuturnya.

Dirintis sejak 1998 dari Madrasah Diniyah hingga Ma
Dirintis sejak 1998 dari Madrasah Diniyah hingga Ma'had Aly, Ponpes Sunan Bejagung Tuban kini resmi mengembangkan kampus INKAMA untuk mencetak santri adaptif.

 

Diterangkan Gus Najib, sebelum resmi memiliki perguruan tinggi, Ponpoes Sunan Bejagung sudah memiliki ma'had aly.

Namun, karena rumpun ilmu yang dikembangkan di Ma'had Aly Sunan Bejagung hanya berfokus pada jurusan tasawuf dan tarekat, sehingga dibutuhkan pengembangan jurusan yang lebih luas. Dari situ, tergerak ide untuk mendirikan perguruan tinggi.

Namun, tegas Gus Najib, ide mendirikan perguruan tinggi juga tidak lepas dari buah pikiran dan kecintaan Kiai Matin terhadap pendidikan, baik pendidikan pesantren maupun pendidikan umum.

"Termasuk perguruan tinggi, sebenarnya juga bukan hal baru bagi beliau. Jauh sebelum ide mendirikan perguruan tinggi ini terealisasi, beliau juga termasuk tokoh yang menginisiasi berdirinya STITMA (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibarahim)—sekarang UNUMA (Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim),’’ terang Gus Najib.

Baca Juga: Wisuda ke-28 Universitas Sunan Bonang (USB) Tuban

Dan salah satu cita-cita Kiai Matin adalah mendirikan kampus di lingkungan ponpes. ‘’Dan sekali lagi, alhamdulillah, cita-cita beliau akhirnya terwujud,’’ tandasnya.

Lebih lanjut, Gus Najib menyampaikan, dalam konteks perkembangan zaman, Kiai Matin memahami betul bahwa seorang santri juga harus memiliki ilmu pengetahuan umum sebagai bekal hidup di tengah masyarakat dan tututan dunia kerja.

"Sukses di dunia dan akhirat, itulah yang selalu dipesankan beliau kepada para santri,’’ tukasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Inkama Abdul Matin Sunan Bejagung Kidul Tuban pesantren