RADARTUBAN - Sebanyak 123 siswa SMPN 4 Tuban mengikuti Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Tuban bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban.
Keikutsertaan siswa kelas VII, VIII, dan IX itu menjadi salah satu upaya sekolah membekali peserta didiknya dengan keterampilan digital.
Kepala SMPN 4 Tuban Lilik Dyah Wulandari menilai, penguasaan koding dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang memengaruhi dunia pendidikan.
Karena itu, siswa perlu dibekali kemampuan tersebut agar mampu mengikuti perubahan sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses belajar.
Baca Juga: 173 Siswa SMPN 2 Montong Antusias Ikuti Kompetisi Koding dan AI Radar Tuban
“Secara pribadi, saya menilai pembekalan materi ini sangat penting karena sekarang sedang zamannya digitalisasi. Jika anak-anak tidak menguasai hal ini, mereka akan ketinggalan dalam mengikuti perkembangan yang berhubungan dengan pendidikan,” ujar Lilik kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (19/10).
Menurut Lilik, pembelajaran koding di SMPN 4 Tuban baru berjalan sekitar dua tahun. Meski demikian, sekolah berupaya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi sejak dini.
Sebanyak 123 siswa pun dilibatkan dalam kompetisi tersebut. Lilik berharap, kegiatan itu dapat memperluas wawasan siswa sekaligus mendorong mereka mengeksplorasi teknologi secara lebih kreatif.
Penguasaan koding dan AI, lanjut dia, dapat membantu siswa memahami pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Keterampilan tersebut juga berpotensi meningkatkan kreativitas, produktivitas, serta kemampuan pemecahan masalah.
Lilik mengingatkan bahwa pemanfaatan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Teknologi semestinya menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir siswa.
Karena itu, sekolah tetap mengarahkan siswa agar menggunakan aplikasi berbasis AI secara bijak dengan pendampingan guru dan orang tua. Pengawasan diperlukan untuk mencegah ketergantungan yang berisiko menghambat kreativitas dan kemampuan berpikir mandiri.
“Mereka tetap kami arahkan agar tidak tergantung pada AI. Anak-anak tetap harus berpikir kritis supaya tidak terjadi ketergantungan yang menurunkan daya kreatif dan kemampuan berpikir kritisnya,” kata Lilik.
Melalui Olimpiade KKA, SMPN 4 Tuban berharap siswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menggunakannya secara bertanggung jawab. Dengan begitu, keterampilan digital dapat berkembang seiring dengan kemampuan berpikir kritis dan inovatif. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban