Usia Bukan Kendala, PKB Klaim Anna Sukses Membangun Bojonegoro

Ahmad Atho’illah • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:04 WIB
Nama Anna Mu’awanah diperbincangkan sebagai calon Bupati Tuban. (dinkominfo.bojonegorokab.go.id)
Nama Anna Mu’awanah diperbincangkan sebagai calon Bupati Tuban. (dinkominfo.bojonegorokab.go.id)

RADARTUBAN – Pembangunan infrastruktur selama menjadi Bupati Bojonegoro dan faktor “dua periode” diklaim menjadi modal penting bagi Anna Mu’awanah sebagai calon bupati Tuban di pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bendahara PKB Tuban Fahmi Fikroni menyikapi beredarnya flayer yang menyandingan Aulia Hany Mustikasari versus Anna Mu’awanah sebagai figur perempuan calon bupati Tuban. ‘’Pilkada masih panjang, dan beliau (Anna Mu’awanah, red) juga belum pernah membahas masalah itu. Namun, sebagai kader terbaik, beliau bisa diperhitungkan (sebagai calon bupati Tuban dalam melawan dominasi Golkar, red),’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Sebagaimana diketahui, Golkar merupakan partai pemenang pemilu di Kabupaten Tuban sekaligus partai penguasa yang berhasil mengantarkan Aditya Halindra Faridzky sebagai bupati Tuban dua periode. Dan Aulia Hany Mustikasari adalah kader Partai Golkar yang saat ini menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus kakak kandung Bupati Aditya Halindra Faridzky.

Lantas, modal penting apa yang mampu di-create dari sosok Anna Mu’awanah dalam melawan dominasi Partai Golkar? Roni—sapaan akrab Fahmi Fikroni—mengatakan, dua di antara modal penting yang ditawarkan PKB adalah keberhasilan Anna Mu’awanah sebagai bupati Bojonegoro dan momentum “dua periode” Golkar sebagai partai penguasa di Kabupaten Tuban.

Roni mengklaim, sejauh ini belum ada bupati Bojonegoro yang mampu menyamai kesuksesan Anna Mu’awanah selama menjadi orang nomor satu di Kota Ledre. Utamanya di bidang infrastruktur. ‘’Tolok ukurnya jelas, masyarakat hari ini masih merindukan kepemimpinan beliau seperti di Bojonegoro. Selama menjadi bupati Bojonegoro, beliau berhasil membenahi Bojonegoro, utamanya di bidang infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan infrastruktur lain, sehingga prestasi ini (pembangunan di Bojonegoro, red) bisa dibawa ke Tuban,’’ klaimnya.

Selain itu, terang Roni, pasca dua periode adalah momentum tepat untuk melawan dominasi partai penguasa. Momentum tepat yang dimaksud adalah kejenuhan masyarakat setelah dua periode dipimpin bupati atau partai yang sama.

Roni menegaskan, dalam banyak sejarah pemilihan kepala daerah, partai penguasa setelah dua periode rata-rata kalah dengan calon baru. Bahkan, dengan gamblang dia mencontohkan peristiwa pencalonan Haeny Relawati Rini Widyastuti sebagai wakil bupati setelah terganjal aturan batas maksimal dua periode.

‘’Sebaik apa pun Bu Haeny saat itu, dan meskipun dengan keyakinan kuat beliau bakal terpilih kembali meskipun sebagai wakil. Tapi faktanya gagal. Dan faktornya adalah kejenuhan masyarakat,’’ ungkapnya.

Begitu pun dengan kepemimpinan Bupati Aditya Halindra Faridzky setelah dua periode. ‘’Sebaik apa pun Mas Lindra, saat ini (setelah dua periode menjadi bupati, red) pasti ada yang sudah tidak suka. Kejenuhan itulah yang akan kami masuki (sebagai peluang),’’ paparnya.

Disinggung soal faktor usia yang berpotensi memengaruhi pilihan gen Z. Sebab, mayoritas pemilih pada pilkada serentak mendatang adalah gen Z, Roni mengaku tidak mempersoalkan tantantangan tersebut.

Sebagaimana diketahui, ketimpangan terdalam ketika menyandingkan Aulia Hany Mustikasari dengan Anna Mu’awanah adalah faktor usia. Keduanya terpaut 20 tahun. Yakni, 38 tahun berbanding 58 tahun.

‘’Soal gen Z itu tergantung komunikasi. Pemimpin itu bukan soal muda saja, tapi mampu merangkul semua kalangan. Dan Bu Anna telah berhasil membuktikan itu selama menjadi bupati Bojonegoro,’’ tandasnya.(tok)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Radar Tuban
Anna Mu’awanah Calon bupati tuban pilkada PKB