Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Timnas U-17 Masih Berpeluang Lolos Fase Grup, Laga Penentunya Melawan Maroko

Dwi Setiyawan • Selasa, 14 November 2023 | 14:42 WIB
Timnas Indonesia U-17 peluang lolos fase group
Timnas Indonesia U-17 peluang lolos fase group

RADARTUBAN-Hasil imbang, 1-1 pada pertandingan kedua grup A melawan Panama pada Senin (13/11) malam, asa Timnas Indonesia U-17 untuk lolos dari grup A ke fase berikutnya di Piala Dunia U-17 masih terjaga. 

Jika seri lawan Maroko dalam pertandingan terakhir fase grup nanti dan saat bersamaan Panama mengalahkan Ekuador, maka Indonesia tersisih. Itu karena tiga tim lain di grup A sama-sama mengumpulkan empat poin.

Andai seri melawan Maroko, dan saat bersamaan Ekuador menang atau seri melawan Panama, maka masih ada harapan Indonesia lanjut ke babak knockout. Itu dengan catatan peringkat ketiga di grup-grup lain juga mengumpulkan tiga poin.

Jika skenario itu yang terjadi, selisih gol menjadi penentu untuk empat tim berperingkat terbaik.

Namun, skenario itu riskan sekali. Karena itu, tak ada cara lebih aman untuk lolos ke babak knockout, selain menang melawan Maroko! 

Dikutip dari Antara, masih memasang formasi 4-3-3 dengan starting-eleven nyaris sama seperti saat melawan Ekuador, kecuali Habil Akbar yang mengisi posisi Andre Pangestu di bek kiri, pemain-pemain Garuda Muda banyak belajar dari kekurangan pada pertandingan pertama.

Hasilnya, penguasaan dan distribusi bola, serta akurasi umpan meningkat dibandingkan pertandingan pertama 10 November lalu.

Jika saat melawan Ekuador tim muda Indonesia menguasai 42 persen lalu lintas bola, maka saat menghadapi Panama angka itu meningkat menjadi 43 persen. Demikian juga dengan umpan yang dilepaskan, meningkat dari 321 umpan menjadi 326 umpan.

Tak terlalu besar memang, tapi itu sudah menggambarkan grafik penampilan Garuda Muda tengah meningkat.

Yang paling mengesankan adalah meningkatnya akurasi sirkulasi bola, dari 69 persen sewaktu melawan Ekuador, menjadi 77 persen saat melawan Panama.

Memang masih di bawah Ekuador dan Panama yang memiliki akurasi 84 persen, tapi Garuda Muda lebih efektif mengalirkan bola sehingga lebih mampu mengatur tempo permainan.

Situasi ini juga membuat pergerakan ke depan menjadi lebih baik. Terbukti, peluang gol yang lebih banyak ketimbang pada laga pertama.

 

Kalau saat melawan Ekuador, Indonesia hanya membuat 6 percobaan gol yang 2 di antaranya tepat sasaran, maka ketika ditantang Panama, angka itu menjadi 8 percobaan gol dan 4 di antaranya tepat sasaran.

Sangat mungkin kualitas Panama di bawah Ekuador, tapi itu tak memupus fakta bahwa kemampuan Iqbal Gwijangge dkk dalam bermanuver dan membaca permainan menjadi bertambah baik. Mereka juga tampil lebih tenang.

Lini pertahanan pun semakin solid, kecuali saat dibobol aksi individual yang dibuat Castillo Jimenez.

Di bawah komando Bima Sakti, Garuda Muda yang saat melawan Ekuador harus 24 kali mementahkan serangan lawan, berhasil membuat Panama hanya melakukan 14 kali melakukan petualangan di daerah pertahanan Indonesia.

Ini menunjukkan kinerja lini pertahanan semakin baik. Kerja kiper Ikram Al Giffari pun menjadi lebih mudah, dan sebaliknya membuat pemain-pemain Panama kesulitan menciptakan peluang bersih di depan gawang Indonesia.

Panama hanya bisa membuat dua percobaan gol tepat sasaran, sedangkan Ekuador melakukannya empat kali. Bahkan angka Panama itu di bawah Indonesia yang empat kali membuat peluang tepat sasaran.

 

Kinerja lini serang Indonesia juga lebih baik dengan tak lagi terlalu mengandalkan satu sektor saja seperti kala melawan Ekuador. Kalau sewaktu melawan Ekuador, Riski Afrisal dominan menusuk lawan dari sayap kiri, maka saat menghadapi Panama, lini tengah dan sisi kanan aktif mengimbangi manuver rekan-rekannya di sektor kiri, termasuk Riski.

Panama terlihat berusaha mematikan Riski, dan ini membuat Indonesia membagi rata beban serangan di tengah dan di kanan.

Pergerakan Garuda Muda di sepertiga akhir lapangan pun menjadi lebih merata. Berdasarkan catatan FIFA, jika saat melawan Ekuador, serangan Indonesia kebanyakan berasal dari kiri, maka ketika melawan Panama, sumbangsih lini tengah dan sayap kanan membesar.

Dalam pertandingan pertama, Indonesia melancarkan 20 tusukan ke daerah pertahanan lawan dengan memanfaatkan lebar lapangan di sayap kiri. Hanya lima kali serangan dari sayap kanan dan tiga dari tengah. Tapi saat melawan Panama, komposisi itu menjadi 14 serangan dari sayap kiri, 7 dari kanan dan 6 dari tengah.

Walau begitu, Riski tetap menjadi motor serangan. Penguasa sayap kiri serangan Indonesia itu membuat 62 sprint kala melawan Panama.

 

Namun, Jehan Pahlevi kali ini bisa mengatasi kesenjangan dengan Riski, berkat lebih hidupnya aliran bola dari sektor kanan sejak dari sisi kanan lini pertahanan Garuda Muda.

Bek kanan Welber Jardim kini jauh lebih aktif membantu serangan, walau tetap disiplin menjaga pertahanan. Bersama gelandang Ji Da Bin, dia menjadi bagian instrumental di sisi kanan permainan Indonesia.

Seperti bek-bek sayap modern, Jardim, dan bek kiri Habil Akbar, aktif naik membantu serangan. Jardim bahkan merancang gol kedua Arkhan Kaka dalam turnamen ini, lewat umpan lambung dari di luar daerah pertahanan Panama, yang disambut tandukan Arkhan.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#ekuador #Piala Dunia U-17 #Castillo Jimenez #Welber Jardim #Panama #U-17 #Garuda Muda #Arkhan Kaka #maroko #bima sakti #Ikram Al Giffari #timnas indonesia