RADARTUBAN – PSSI secara resmi menunjuk pelatih asal Jepang, Satoru Mochizuki untuk menangani timnas putri Indonesia.
Pelatih yang pernah mengantarkan Jepang juara Piala Dunia Wanita 2011 itu dikontrak selama dua tahun.
‘’Penunjukan ini agar sepak bola putri kita juga bangkit dan membuktikan bahwa kami di PSSI tidak hanya fokus di putra saja. Mengapa langsung timnas? Karena saat ini, timnas putri kita punya pemain-pemain yang secara kualitas baik, dengan ada beberapa main di liga luar negeri. Jadi momentumnya lagi bagus dan harus kita manfaatkan,’’ jelas Ketua Umum PSSI, Erick Thohir usai penandatanganan kontrak di Jakarta, Selasa (20/2), dilansir dari laman resmi PSSI.
Erick Thohir menjelaskan, kehadiran coach Satoru Mochizuki menjadi bagian dari kerja sama PSSI dengan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) yang diresmikan Mei 2023 lalu.
"Pelatih Satoru yang dipilih untuk tangani timnas putri ini, punya track record bagus dan mumpuni untuk memajukan sepak bola putri di Tanah Air. Saya pilih Jepang karena tradisi sepak bola putri Jepang sangat kuat. Juara dunia sekali dan sembilan kali lolos terus ke putaran final Piala Dunia putri sejak 1991," jelas pria yang juga menjabat menteri BUMN itu.
Erick Thohir menyatakan sepak bola wanita Indonesia tengah berada di momentum positif untuk makin ditingkatkan prestasi dan kualitasnya.
Menurut Erick, keberadaan beberapa pesepak bola putri yang bermain di luar negeri dan persaingan sepak bola wanita di Asia Tenggara serta Asia yang masih kompetitif membuat peluang timnas putri mencetak prestasi, seperti halnya timnas putra, terbuka lebar.
Saat ini, sejumlah pemain timnas putri Indonesia tengah meniti karier di luar negeri.
Di antaranya, Helsya Maeisyaroh, Sheva Imut, dan Shafira Ika yang memperkuat klub tier 4 Jepang, FC Ryukyu Ladies.
Juga, Fani Supriyanto yang membela klub divisi satu Liga Putri Arab Saudi, Al Hammah.
Timnas putri Indonesia terakhir mencetak prestasi lolos ke Piala Asia Wanita 2022.
Namun, Safira Ika Puteri cs gagal melaju ke fase gugur.
Meski saat ini PSSI fokus pada timnas putri, namun Erick menyatakan tidak melupakan sisi pembinaan.
Untuk mendukung kompetisi atau liga sebagai kunci pembinaan, PSSI tengah menyusun cetak biru kompetisi wanita dari usia muda, sebelum menggulirkan Liga 1.
‘’Salah satunya, akhir bulan ini akan digelar turnamen putri usia muda U-10 dan U-14. Ini awal karena harus dimulai dari usia 9, 12, 14, yang menandakan pembinaan dari bawah. Lalu dibuat zona-zona yang diikuti klub, sehingga baru bisa dijadikan liga. Turnamen-turnamen muda ini bisa menyalurkan kompetisi dan menampung bakat sepak bola wanita kita,’’ kata mantan Presiden Inter Milan itu. (*)
Editor : Kifani Amalija Putri