Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengikuti Liga Perserikatan hingga Kasta Tertinggi. Refleksi Sejarah Persebaya yang Kini Berusia 97 Tahun

Dwi Setiyawan • Rabu, 19 Juni 2024 | 02:05 WIB
Logo HUT ke-97 Persebaya.
Logo HUT ke-97 Persebaya.

RADARTUBAN-Persebaya didirikan Paijo dan M. Pamoedji pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabhaiasche Indonische Voetbal Bond (SIVB).

Tujuan dibentuknya SIVB, nama awal Persebaya adalah membangkitkan rasa nasionalisme lewat klub sepak bola dan berkompetisi dengan klub dari daerah lain.

Itulah sekelumit kilas balik sejarah Persebaya yang Selasa (18/6) hari ini berusia 97 tahun.

Usia 97 tahun cukup panjang untuk sebuah klub sepak bola, terutama di Indonesia.
 
Dikutip dari e-jurnal Sejarah Avatara milik Unesa dengan judul Persebaya Surabaya pada Masa Kolonial hingga Kemerdekaan Tahun 1927-2004 yang ditulis jawapos.com, selama 97 tahun berdiri, Persebaya sudah melalui berbagai dinamika persepakbolaan Indonesia.

Dinamika tersebut, mulai mengikuti Liga Perserikatan, berkompetisi di Liga Indonesia, terdampar di Liga Indonesia tandingan, hingga kembali ke kasta tertinggi kompetisi tanah air.

Berbagai dinamika yang dilalui Persebaya sejalan dengan awal berdirinya, di mana pada 1920-an dinamika sepak bola saat itu mengalami persaingan kompetisi dengan klub-klub daerah lain pada masa kolonial Belanda.

Apalagi, saat itu juga ada klub asal Surabaya lainnya adalah Soerabaiasche Voetbal Bond (SVB) yang para pemainnya merupakan warga Belanda dan etnis China yang menetap di Surabaya.

Dinamika persepakbolaan saat itu adalah berkompetisi dalam liga sepak bola bentukan kolonial Belanda di Pulau Jawa yaitu Nederlansche Indische Voetbal Bond (NIVB) yang dikenal juga dengan nama V.U.V.S.I atau Stedenwedstridjen.

Kompetisi sepak bola NIVB pertama kali digelar pada 1914 oleh Koloniale Tentoonstelling di Semarang.

Pada kompetisi tersebut, Kota Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pemenang untuk pertama kalinya dan meraih piala perak Koloniale Tentoonstelling.

Kompetisi ini dibentuk sebagai ajang bertanding bagi klub-klub sepak bola di Pulau Jawa kala itu yang diikuti klub asal Batavia, Soerabaja, Bandoeng, dan Semarang.

NIVB yang merupakan cikal bakal Liga Perserikatan berakhir pada 1950 atau lima tahun setelah Indonesia merdeka.

Pada 1951, Liga Perserikatan resmi dibentuk PSSI dan SIVB turut serta di dalamnya.

Selama berkompetisi di Perserikatan, Green Force meraih juara sebanyak enam kali.

Saat mengikuti kompetisi Perserikatan, SIVB juga berubah nama menjadi Persibaja, hingga kemudian berganti lagi menjadi Persebaya dan nama terakhir itulah yang bertahan hingga saat ini.

Dinamika persepakbolaan nasional kemudian berubah. Jika sebelumnya terdapat dua kompetisi di Indonesia yaitu Perserikatan dan Galatama, seiring perkembangan zaman, muncul gagasan Liga Indonesia yang merupakan liga sepak bola pemersatu klub-klub Perserikatan dan Galatama.

Liga yang digagas wakil presiden kala itu, Tri Sutrisno kemudian resmi menjadi Liga Indonesia (Ligina) pada 1994 yang memiliki format kompetisi sepak bola modern.

igina saat itu dibagi menjadi wilayah barat dan wilayah timur, di mana dua peringkat teratas dari masing-masing wilayah bertemu di babak 4 besar hingga final untuk menentukan juara liga.

Selain itu, Ligina juga menerapkan pembagian divisi mulai terbawah hingga teratas, dan memberlakukan degradasi dan promosi.

Ligina kemudian menjadi cikal bakal kompetisi liga sepak bola di tanah air saat ini, di mana kasta tertinggi liga disebut Liga 1, kemudian divisi di bawahnya adalah Liga 2 dan Liga 3.

Selama berkompetisi di liga Indonesia (mulai era Ligina, Indonesia Super League, hingga Liga 1), Persebaya sudah dua kali juara, yaitu pada 1997 dan 2004. (*)

Editor : Amin Fauzie
#sejarah persebaya #97 tahun #klub sepak bola