RADARTUBAN – Nama Roy Keane selalu identik dengan duel panas di lini tengah.
Kariernya sebagai kapten Manchester United tidak hanya dikenang karena trofi dan dominasi di lapangan, tapi juga karena rivalitasnya dengan para gelandang kelas dunia.
Namun siapa sangka, ketika ditanya soal lawan terberat sepanjang kariernya, Keane justru tak menyebut nama Patrick Vieira, rival klasiknya dari Arsenal.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama ITV, Keane dengan lugas menyebut Zinedine Zidane sebagai lawan paling tangguh yang pernah ia hadapi.
“Aku tidak akan bilang Vieira, tidak,” ucap Keane. “Sejujurnya, menurutku Zidane adalah lawan terberat. Dia pemain besar, kuat, tekniknya luar biasa, sangat agresif, dan sering mencetak gol di momen-momen penting.”
Pernyataan itu tentu mengejutkan banyak orang. Pasalnya, Keane dan Vieira kerap dianggap sebagai simbol persaingan abadi Manchester United dan Arsenal—dua klub yang menguasai Liga Primer Inggris pada era akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Namun bagi Keane, ada hal lain yang membuat Zidane lebih menantang.
Bukan sekadar duel fisik atau adu ego, tetapi kualitas dan kecerdikan Zidane di lapangan—yang membuat setiap pertemuan dengannya jadi pertempuran otak dan teknik.
Keane dan Zidane sempat empat kali berjumpa di panggung Liga Champions.
Salah satunya adalah laga ikonik saat Manchester United menumbangkan Juventus 3-2 pada semifinal tahun 1999.
Dalam laga itu, Keane bermain cemerlang dan membawa timnya lolos ke final, meski harus absen karena akumulasi kartu.
Vieira Tetap Jadi Rival Berarti
Meski tak menyebut Vieira sebagai yang terberat, Keane tetap menaruh respek pada mantan kapten Arsenal tersebut.
Dalam wawancara lain di program The Overlap, Keane menyebut bahwa duel dengan Vieira justru selalu memotivasinya untuk bermain lebih baik.
“Aku merasa ketika ada pemain seperti Patrick, mereka memaksamu untuk tampil maksimal. Itulah esensi dari permainan. Kamu harus keluarkan permainan terbaikmu, A-game,” jelas Keane.
“Siapa yang lebih sering menang? Sulit untuk dikatakan. Patrick punya harinya sendiri, dan aku juga punya. Tapi aku menikmati duel-duel itu.”
Rivalitas mereka memang kerap memanas, bahkan hingga ke lorong stadion. Tapi bagi Keane, semua itu tetap dalam koridor profesional.
“Aku pikir pertempuran antara kami itu jujur. Tidak ada yang curang. Kamu pukul aku, aku pukul kamu, lalu kita lanjut main,” tambahnya.
Dua Legenda, Dua Cerita
Baik Zinedine Zidane maupun Patrick Vieira telah menulis sejarah mereka masing-masing dalam sepak bola dunia. Dan bagi Roy Keane, menghadapi keduanya adalah bagian dari perjalanan panjang dan berharga dalam kariernya.
Satu hal yang pasti, meski Keane dikenal dengan gaya bermain tanpa kompromi, ia tetap tahu kapan harus memberi hormat kepada para lawan yang membuatnya terus berkembang.
“Pertemuan dengan mereka—Zidane dan Vieira—membentuk saya. Itu adalah duel yang tak akan pernah saya lupakan,” tutup Keane. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama