RADARTUBAN - Beberapa hari lalu, lini masa Twitter (sekarang X) ramai karena satu video yang—jujur saja—tidak lucu sama sekali.
Seekor anjing dipakaikan baju Persija, lalu dikomentari oleh supporter rival, “the jak anj*ng”.
Pemilik akun @casualultraindo menulis caption, “Ide siapa ini woyy, btw ngakak anjir ????.”
Saya nggak tahu, ngakaknya di mana. Mungkin buat yang belum ngerti konteksnya, ini sekadar kelucuan receh ala meme.
Tapi buat banyak orang, khususnya yang masih punya empati terhadap dunia sepak bola Indonesia, ini bikin mules dan sedih.
Apalagi jika kita masih ingat tragedi Kanjuruhan.
Ya, Kanjuruhan. Malam kelam 1 Oktober 2022, di mana 135 nyawa melayang cuma karena sepak bola.
Lebih tepatnya, karena kesalahan sistemik dan sikap manusia yang kebablasan dalam mengelola pertandingan dan rivalitas.
Waktu itu, seisi negeri ramai-ramai bilang: Tak ada sepak bola sebanding nyawa manusia.
Banyak juga yang berucap: Ada doa, ada air mata, ada harapan kalau tragedi itu bakal jadi titik balik dunia sepak bola kita. Suporter diharapkan bisa lebih dewasa, rivalitas diredam, dan keselamatan dijunjung.
Tapi kenyataannya? Kita masih di situ-situ saja.
Lelucon soal anjing dan logo klub rival bukan cuma bentuk kebencian yang dibalut komedi.
Itu juga simbol bahwa sebagian dari kita nggak benar-benar belajar apa-apa dari Kanjuruhan.
Bahwa nyawa 135 orang itu, ternyata masih kalah nilainya dibanding rasa “paling bener” dalam mendukung klub kesayangan.
Yang begini ini bikin miris. Karena perdamaian suporter bukan sekadar gimmick medsos atau tulisan manis di spanduk stadion.
Itu butuh upaya panjang, butuh saling menahan ego, dan yang paling penting: butuh niat sungguh-sungguh.
Untungnya, masih ada contoh baik. Salah satunya datang dari suporter tiga klub yang dulunya terkenal panas: PERSIS Solo, PSIM Jogja, dan PSS Sleman.
Ketiganya sepakat berdamai, saling berkunjung, dan membuktikan bahwa sepak bola bisa tetap seru tanpa harus ada caci maki, ejekan, apalagi kekerasan.
Tagar mereka: #PENAKSEDULURAN dan #SEPAKATDAMAI, bukan cuma hiasan medsos, tapi sudah mulai jadi gerakan nyata.
Kalau ada yang bisa bikin bangga dari sepak bola Indonesia, ya semangat kayak gini. Karena pada akhirnya, apa sih esensi dari sepak bola?
Hiburan, semangat kebersamaan, ruang untuk teriak lepas dari penat hidup. Bukan soal siapa paling benci siapa, apalagi sampai ngorbanin nyawa atau martabat orang lain.
Jadi buat kita semua—baik yang di tribun, di balik akun fanbase, atau yang suka posting meme—mari ingat lagi: sepak bola itu soal cinta.
Dan cinta, kalau benar, nggak mungkin bikin orang celaka.
Kalau Kanjuruhan tidak bikin kita berubah, lalu apa lagi yang bisa? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama