Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hansi Flick dan Kebangkitan Barcelona: Dari Klub “Tuas Ekonomi” ke Mesin Gol Menyeramkan

M. Afiqul Adib • Selasa, 20 Mei 2025 | 14:14 WIB
Ilustrasi lapangan sepak bola
Ilustrasi lapangan sepak bola

RADARTUBAN- Musim 2023/2024 bisa dibilang jadi titik nadir Barcelona. Gak ada gelar, performa gak stabil, dan Xavi harus mengucapkan sayonara meski sempat bertahan ngotot.

Tapi siapa sangka, hanya beberapa bulan setelah itu, datanglah penyelamat dari Jerman yang dulu pernah bawa Bayern jadi mesin penghancur Eropa: Hansi Flick.

Gabung pada Mei 2024, Flick langsung menandatangani kontrak yang—uniknya—gajinya cuma separuh dari bayaran Xavi.

Bisa jadi karena Flick memang niat “benerin” Barca, bukan sekadar numpang lewat sambil ngambil untung.

Dan bener aja, dalam waktu secepat kilat, dia berhasil bawa perubahan yang bikin fans Barcelona bersorak dari tribun sampai timeline X (baca: Twitter).

Musim debut? Langsung 3 trofi digondol. Bukan cuma menang, tapi juga menang dengan gaya.

Barcelona asuhannya Flick mencetak 169 gol dari 58 pertandingan di semua kompetisi. Artinya? Hampir 3 gol per pertandingan.

Belum lagi, empat kali bertemu Real Madrid, empat kali juga Madrid dicukur habis-habisan. El Clasico mendadak jadi ajang latihan menyerang untuk Barca.

Lebih gila lagi, semua ini dilakukan dengan skuad yang rata-rata usianya cuma 24,1 tahun—termuda di La Liga.

Artinya, Flick bukan hanya menang, tapi juga membangun fondasi masa depan.

Dia nggak belanja jor-joran, cukup dua pemain aja: Dani Olmo dan Pau Victor.

Sisanya? Diolah dari stok yang ada. Mirip ibu-ibu yang bisa masak enak cuma dari bahan sisa di kulkas.

Dan, satu lagi yang bikin publik ngucek mata dua kali: Wojciech Szczesny.

Kiper asal Polandia yang sempat memutuskan pensiun malah dibujuk balik oleh Flick dan dipoles jadi tembok baru di bawah mistar.

From retirement to revival, gitu katanya anak-anak TikTok.

Keberhasilan Flick ini bukan cuma soal taktik. Dia juga berhasil menghapus stigma klub “tuas ekonomi” yang sempat melekat kuat di era Joan Laporta.

Ingat kan waktu Barca doyan jual masa depan demi belanja sekarang? Di era Flick, semua terasa lebih rasional. Lebih elegan. Lebih… yah, seperti Barcelona seharusnya.

Ini belum masuk tahun kedua, tapi rasanya Flick sudah berhasil menyulap tim yang sempat kehilangan arah jadi salah satu kekuatan paling menakutkan di Eropa.

Dan semua itu dilakukannya tanpa banyak drama. Tanpa ribut-ribut. Tanpa opera sabun seperti klub sebelah yang katanya “dalam proses panjang.”

Apakah ini akan bertahan? Kita belum tahu. Tapi yang jelas, Hansi Flick datang dengan setelan jas sederhana, gaji lebih murah, dan hasil yang bikin fans nggak perlu lagi lihat ke belakang.

Karena sekarang, Barcelona sudah kembali jadi Barca. Bukan FC Tuas Ekonomi. Bukan klub nostalgia.

Tapi klub sepak bola yang benar-benar bermain sepak bola—dan menang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#la liga #Kebangkitan #Hansi Flick #Barcelona #Xavi