RADARTUBAN – Sepanjang sejarah panjang AC Milan di pentas Serie A, banyak nama besar telah duduk di kursi panas pelatih.
Namun dari semua sosok itu, Arrigo Sacchi masih diakui sebagai pelatih terhebat AC Milan sepanjang masa.
Bukan hanya oleh tifosi Il Rossoneri, tetapi juga oleh para analis sepak bola Eropa.
Di bawah arahannya, AC Milan bukan cuma menang—mereka menciptakan revolusi sepak bola modern.
Dengan filosofi menyerang, tekanan tinggi, dan organisasi yang rapi, Sacchi meletakkan fondasi yang mengubah wajah sepak bola Italia yang sebelumnya kaku dan defensif.
Arrigo Sacchi : Dari Penjual Sepatu Jadi Arsitek Taktik Sejati
Siapa sangka pria kelahiran Fusignano, Italia, 1 April 1946 ini tak pernah bermain sepak bola profesional.
Dia memulai kariernya sebagai pelatih klub-klub kecil seperti Rimini dan Parma, sebelum Silvio Berlusconi, presiden Milan saat itu, tertarik dengan taktik menyerang ala Belanda yang ia terapkan di Serie B.
Sacchi bergabung dengan AC Milan pada tahun 1987, dan sejak saat itu, segalanya berubah.
Rekam Jejak Kepelatihan Arrigo Sacchi di AC Milan
- Periode Kepelatihan di Milan: 1987–1991
- Trofi Serie A: 1 (1987–88)
- Liga Champions / European Cup: 2 (1988–89, 1989–90)
- Piala Super Italia: 1 (1988)
- Piala Super Eropa: 2 (1989, 1990)
- Piala Interkontinental: 2 (1989, 1990)
Sacchi membentuk "Milan Immortale", skuad yang diisi oleh trio Belanda legendaris Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard, serta pilar Italia seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, dan Carlo Ancelotti.
Taktiknya dikenal sebagai zona pressing dengan garis pertahanan tinggi, sesuatu yang sangat berani untuk era Serie A yang terkenal ultra-defensif.
FILOSOFI YANG MENDEFINISIKAN ERA
Sacchi pernah berkata:
"Saya tidak pernah mengatakan pemain hebat membuat tim hebat. Tapi tim hebat akan membuat pemain jadi hebat."
Pandangan ini mencerminkan obsesinya terhadap kolektivitas dan struktur permainan.
Dia menolak individualisme dan menekankan latihan yang intens dengan formasi 4-4-2 yang sangat disiplin.
Setelah sukses bersama Milan, Sacchi menjadi pelatih Timnas Italia (1991–1996) dan mengantarkan Gli Azzurri ke final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat sebelum kalah adu penalti dari Brasil.
Ia juga sempat melatih Atlético Madrid, kembali sebentar ke Milan, dan menjadi direktur teknik di Real Madrid, tempat ia membantu menemukan bakat seperti Casillas dan Guti.
Pengaruh Jangka Panjang : Guru Para Guru
Sacchi menjadi rujukan banyak pelatih masa kini seperti:
- Pep Guardiola, yang mempelajari organisasi kolektif ala Sacchi
- Jurgen Klopp, dalam hal pressing dan transisi cepat
- Carlo Ancelotti, yang dulunya anak asuhnya di Milan
Sacchi telah menulis buku dan menjadi komentator, tetap vokal menyuarakan sepak bola progresif.
Mengapa Sacchi Masih Dianggap yang Terhebat?
- Mengubah taktik Italia yang defensif ke arah menyerang
- Meraih prestasi luar biasa dalam waktu singkat
- Membentuk skuad terbaik Milan sepanjang masa
- Pengaruhnya masih terasa hingga sepak bola modern saat ini
Banyak pelatih meraih trofi, tapi sedikit yang mengubah cara sepak bola dimainkan. Di situlah letak kehebatan Sacchi. (*)
Editor : Amin Fauzie