RADARTUBAN - Bayangkan sedang menonton pertandingan sepak bola antarnegara atau mengikuti sidang PBB, tapi malah terkecoh karena dua negara membawa bendera yang nyaris identik.
Bukan salah mata Anda—memang ada beberapa negara di dunia ini yang memakai bendera kembar.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan estetika, melainkan jejak sejarah, kolonialisme, hingga pengaruh budaya yang saling tumpang tindih.
Setiap bendera negara seharusnya mencerminkan identitas unik bangsa tersebut.
Namun kenyataannya, tak sedikit negara yang berbagi desain serupa, bahkan hanya berbeda sedikit pada proporsi, lambang kecil, atau urutan warna.
Hal ini membuat banyak orang, termasuk diplomat dan atlet internasional, terkadang keliru.
Berikut ini adalah deretan negara dengan bendera yang ‘kembar’, lengkap dengan penjelasan sejarah dan latar belakangnya yang mencengangkan:
Rumania dan Chad: Nyaris Identik, Hanya Berbeda Nada
Desain: Tiga garis vertikal biru, kuning, merah.
Perbedaan: Hampir tidak terlihat. Chad sedikit lebih gelap pada warna birunya, namun mata manusia sulit membedakannya secara kasat mata.
Fakta menarik: Chad pernah protes resmi ke PBB, tapi Rumania bersikukuh mempertahankan desainnya. Hingga kini, keduanya tetap menggunakan bendera identik.
Indonesia dan Monako: Bedanya Cuma Skala
Desain: Dua garis horizontal—merah di atas, putih di bawah.
Perbedaan: Indonesia memiliki rasio 2:3, Monako 4:5. Sangat minor jika dilihat di lapangan.
Asal-usul: Indonesia mengadopsi bendera ini sebagai simbol perjuangan sejak 1920-an. Monako sudah memakainya sejak abad ke-14 sebagai lambang kerajaan.
Belanda dan Luksemburg: Kembar Tapi Bukan Saudara
Desain: Merah, putih, biru secara horizontal.
Perbedaan: Warna biru di bendera Luksemburg lebih muda.
Kontroversi: Banyak masyarakat Eropa sendiri sulit membedakan keduanya kecuali dengan penjelasan resmi.
Selandia Baru dan Australia: Bintang Jadi Pembeda
Desain: Biru dengan Union Jack di pojok kiri atas, ditambah bintang-bintang.
Perbedaan: Australia memiliki enam bintang putih, sedangkan Selandia Baru hanya empat dengan warna merah berbatas putih.
Isu nasionalisme: Selandia Baru sempat menggelar referendum tahun 2016 untuk mengganti bendera karena terlalu mirip Australia—namun mayoritas tetap memilih desain lama.
Suriah dan Irak (versi lama): Tersandung Pan-Arabisme
Desain: Tiga warna horizontal—merah, putih, hitam—dengan dua bintang hijau di tengah.
Perbedaan: Irak pernah menambahkan tulisan “Allahu Akbar” dalam kaligrafi.
Latar sejarah: Keduanya mengadopsi gaya Pan-Arab sebagai simbol persatuan di kawasan Timur Tengah.
Kenapa Bisa Kembar? Ini Penjelasan Akademisnya:
1. Pengaruh Kolonialisme
Banyak negara bekas jajahan mengadopsi desain bendera penjajah sebagai bentuk kompromi budaya dan politik.
2. Gerakan Ideologi Regional
Pan-Arabisme, Pan-Afrikanisme, dan Pan-Slavisme menyebabkan banyak negara mengadopsi pola serupa sebagai simbol persatuan.
3. Ketidaksengajaan Sejarah
Beberapa negara mendesain bendera secara bersamaan tanpa mengetahui kemiripan dengan negara lain, apalagi sebelum era digital.
Isu diplomatik: Kesamaan bendera bisa menyebabkan kerancuan dalam diplomasi internasional, identitas negara, hingga konflik simbolik.
Relevansi kekinian: Di era globalisasi dan digitalisasi, visual branding negara makin penting—dan bendera adalah wajah pertama dari suatu bangsa.
Meski terlihat seperti kesalahan desain atau minim kreativitas, fenomena bendera kembar ini justru membuka ruang diskusi yang lebih luas: apakah simbol kebangsaan harus unik secara visual, atau makna sejarah dan ideologi lebih penting?
Karena di balik sepotong kain bergambar warna-warni itu, tersimpan cerita panjang tentang identitas, perjuangan, hingga kebanggaan sebuah bangsa. (*)
Editor : Amin Fauzie