RADARTUBAN – Tahun 2025 menandai babak baru dalam sejarah sepak bola nasional. Setelah empat musim dikenal sebagai BRI Liga 1, kini liga kasta tertinggi Indonesia bakal mengusung nama baru: BRI Super League.
Nama ini direncanakan berlaku mulai musim 2025–2026, namun logo resminya masih belum dirilis hingga artikel ini ditulis.
Namun, pergantian nama bukanlah hal asing di kancah sepak bola Tanah Air.
Sejak kompetisi profesional pertama digelar pada 1994, Liga Indonesia telah mengalami lebih dari 10 kali perubahan nama, sebagian besar karena faktor sponsor utama.
Transformasi ini menggambarkan betapa dinamisnya hubungan antara industri sepak bola dan dunia bisnis di Indonesia.
Evolusi Nama Liga Indonesia: Dari Dunhill ke Era Super Modern
Berikut kilas balik transformasi nama Liga Indonesia selama lebih dari 3 dekade, seperti tertera dalam infografik viral yang kini ramai di media sosial:
1. 1994–1996: Liga Dunhill
Kompetisi profesional pertama dengan sponsor utama dari produk rokok Dunhill.
2. 1996–1998: Liga Kansas
Masih disokong sponsor rokok, nama liga berubah menjadi Liga Kansas.
3. 1998–1999: Liga Indonesia (Tanpa Sponsor)
Krisis ekonomi memaksa liga berjalan tanpa sponsor resmi.
4. 1999–2004: Liga Bank Mandiri
Era baru dimulai dengan dukungan sponsor dari sektor perbankan nasional.
5. 2005–2008: Liga Djarum
Djarum mengambil alih, menandai kembalinya industri rokok sebagai sponsor utama.
6. 2008–2011: ISL (Indonesia Super League)
Reformasi liga dimulai. Nama kompetisi memakai bahasa Inggris tanpa sponsor utama.
7. 2011–2012: LPI (Liga Primer Indonesia)
Kompetisi tandingan oleh konsorsium independen, sempat berlangsung satu musim.
8. 2011–2014: ISL Kembali
Setelah konflik dualisme, ISL kembali sebagai liga resmi.
9. 2015: QNB League
Liga disponsori oleh Qatar National Bank, pertama kalinya sponsor asing masuk.
10. 2016: Torabika Soccer Championship
Kompetisi digelar dalam masa transisi federasi, disokong produsen minuman Torabika.
11. 2017: Go-Jek Traveloka Liga 1
Era Liga 1 dimulai, disponsori startup besar Indonesia.
12. 2018: Go-Jek Liga 1
Traveloka keluar, Go-Jek menjadi sponsor tunggal.
13. 2019–2020: Shopee Liga 1
Marketplace besar Shopee ambil alih branding kompetisi.
14. 2021–2025: BRI Liga 1
Bank BRI jadi sponsor utama, membawa stabilitas dalam 4 musim terakhir.
15. 2025–?: BRI Super League
Transformasi terbaru dengan nama lebih segar dan internasional.
Strategi Branding dan Jejak Sponsor di Liga Indonesia
Perubahan nama liga tidak hanya soal logo dan titel. Ini adalah refleksi dari dinamika ekonomi, politik, dan transformasi branding dalam industri sepak bola nasional.
Setiap sponsor yang masuk membawa serta misi, gaya promosi, hingga pengaruh pada kualitas kompetisi.
Contohnya, Go-Jek dan Shopee memperkenalkan digitalisasi besar-besaran melalui aplikasi dan aktivasi media sosial.
Sedangkan BRI, lewat BRI Liga 1, fokus pada penguatan UMKM dan koneksi ke wilayah-wilayah pedalaman lewat promosi sepak bola.
Banyak netizen menyambut baik nama baru BRI Super League, karena terdengar lebih prestisius dan mendekati standar global.
Namun tak sedikit pula yang menyindir, “Jangan ganti nama terus, yang penting kualitas lapangan dan wasitnya juga naik level.”
Hal ini menjadi refleksi tantangan besar Liga Indonesia ke depan, bukan sekadar soal nama, tapi soal kualitas kompetisi yang bisa dipercaya dan mendunia.
Transformasi nama Liga Indonesia dari Liga Dunhill ke BRI Super League adalah potret unik dari perpaduan olahraga dan bisnis yang terus berevolusi.
Kini, publik menantikan bukan hanya logo baru, tapi pembuktian di lapangan: apakah BRI Super League akan membawa sepak bola Indonesia ke level lebih tinggi? Mari kita nantikan musim baru yang penuh semangat dan kejutan. (*)
Editor : Amin Fauzie