RADARTUBAN - Marcus Rashford resmi bergabung dengan Barcelona, menandai akhir dari perjalanan panjangnya bersama klub Manchester United yang telah dia bela sejak usia tujuh tahun.
Pengumuman tak langsung itu ia sampaikan melalui sebuah unggahan di media sosial, dia duduk santai di jet pribadi bersama dua saudaranya, bermain kartu, dan memamerkan kartu As Hati.
Sebuah simbol yang seolah menyiratkan harapan baru dan permulaan yang segar.
Meski perpisahan ini terasa besar, di Manchester banyak yang melihatnya sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Performanya yang naik-turun dalam beberapa musim terakhir membuatnya tak lagi masuk dalam rencana jangka panjang manajer Ruben Amorim.
Namun begitu, banyak pula yang berharap Rashford bisa kembali menemukan bentuk terbaiknya meski tidak lagi di Old Trafford.
Sempat dipinjamkan ke Aston Villa selama setengah musim, Rashford menunjukkan kilasan talenta yang dulu membuatnya dipuja.
Tapi itu belum cukup untuk meyakinkan United. Barcelona, yang sebelumnya gagal mendapatkan Nico Williams, melihat kesempatan emas untuk memboyong Rashford.
Klub Katalan ini sudah lama meminatinya, dan sang pemain pun sempat menyatakan ketertarikannya pada musim panas lalu.
Direktur olahraga Deco bahkan secara terbuka mengakui bahwa Rashford adalah pemain dengan profil yang menarik.
Dikutip dari BBC Barca meminjam Rashford dengan opsi pembelian permanen senilai €35 juta. Tidak ada kewajiban membeli, sehingga risiko bagi mereka hampir nol.
Bila Rashford tampil cemerlang dan bisa kembali ke performa yang dulu membuatnya digaji £325.000 per minggu, maka harga itu bisa dibilang murah.
Namun jika tidak, mereka tinggal melepasnya kembali tanpa rugi besar. United sendiri mendapat keuntungan berupa ruang gaji yang lebih longgar dan peluang membangun skuad tanpa bayang-bayang Rashford.
Namun, di balik strategi bisnis itu, ada cerita emosional yang tidak bisa diabaikan.
Rashford bukan pemain biasa.Dia adalah pencetak gol terbanyak ke-15 sepanjang sejarah Manchester United, dan juga masuk dalam daftar 25 besar pemain dengan jumlah penampilan terbanyak.
Pada usia 27 tahun, dia seharusnya masih punya cukup waktu untuk menembus sepuluh besar dalam dua kategori itu.Kini semua itu mungkin terhenti untuk selama-lamanya.
Masalah sebenarnya mulai muncul pada awal tahun lalu.Rashford ketahuan memperpanjang masa liburan secara diam-diam, berpesta dua malam berturut-turut di Belfast, dan datang terlambat ke latihan.
Meskipun ia mencetak gol di laga pertama Ruben Amorim sebagai manajer, sang pelatih sudah menilai ada masalah yang lebih dalam. Rashford pun disingkirkan secara perlahan dari tim utama.
Banyak yang percaya Rashford merasa kurang didukung oleh klub, dan lingkaran terdekatnya pun menyebut ringkasan dengan United benar-benar rusak.
Rio Ferdinand, mantan rekan satu klub, bahkan mengatakan ada hal besar yang belum diketahui publik.
Entah itu soal cedera, motivasi yang menghilang, atau penanganan yang kurang tepat dari manajemen klub.
Kini, Rashford memulai babak baru di Spanyol.Di sana, dia akan berbagi lapangan dengan nama-nama besar seperti Robert Lewandowski dan Lamine Yamal.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Rashford bisa sukses di Barcelona, tetapi apakah dia bisa menemukan kembali rasa cintanya pada permainan, semangatnya, dan kualitas yang pernah membuatnya menjadi simbol harapan United.
Yang jelas, baik Rashford maupun Manchester United kini melanjutkan hidup masing-masing.
Dan seperti semua perpisahan yang rumit, keduanya mungkin takkan pernah kembali seperti dulu lagi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni