RADARTUBAN – Bursa transfer musim panas ini kembali diwarnai teka-teki panas.
Adalah Pervis Estupiñán, bek kiri asal Ekuador yang resmi hengkang dari Brighton & Hove Albion ke AC Milan dengan harga yang jauh di bawah ekspektasi.
Milan menebus pemain berusia 27 tahun itu dengan harga awal €17 juta, ditambah bonus sekitar €2–3 juta tergantung performa.
Padahal, awal Juni lalu, beberapa media Inggris menyebutkan bahwa harga jual sang pemain bisa mencapai €40–45 juta, seiring performanya yang konsisten di Premier League.
Namun kenyataannya, Milan berhasil mengamankan tanda tangan Estupiñán dengan harga kurang dari setengah estimasi awal, tanpa perang penawaran yang berarti.
Kesepakatan ini memicu spekulasi luas di media Inggris. Pasalnya, tidak ada indikasi sebelumnya bahwa Brighton akan melepas bek andalannya dengan harga miring.
Bahkan, Estupiñán masih terikat kontrak jangka panjang dan tidak memiliki klausul rilis yang rendah.
Sumber dari kalangan jurnalis Italia, Antonello Gioia, menyebutkan bahwa kesepakatan ini bisa terwujud bukan hanya karena tangan dingin agen Jorge Mendes, tapi juga karena ada “sesuatu” dari internal Brighton yang ikut melicinkan jalan Milan.
Sejumlah dugaan pun mencuat:
1. Cedera laten atau masalah medis?
Rumor menyebutkan Estupiñán sempat mengalami cedera hamstring yang belum sepenuhnya pulih. Brighton disebut-sebut tak ingin mengambil risiko panjang.
2. Hubungan manajemen yang retak?
Ada bisik-bisik soal ketidakharmonisan antara sang pemain dengan staf pelatih, terutama pasca kepergian Roberto De Zerbi.
Estupiñán beberapa kali dicadangkan tanpa alasan yang dijelaskan ke publik.
3. Kepentingan Mendes di balik layar?
Jorge Mendes dikenal punya jaringan kuat di klub-klub besar. Beberapa pihak menduga ada skenario barter atau “favor” yang melibatkan pemain lain yang akan mengarah ke Brighton dalam waktu dekat.
Bagi Milan, ini bisa dibilang transfer jackpot. Mereka mendapatkan bek kiri tangguh dengan harga miring—sebuah kebutuhan mendesak pasca hengkangnya Theo Hernández dan minimnya pelapis di sisi kiri.
Namun bagi publik Inggris, pertanyaannya sederhana: "Bagaimana mungkin seorang bek Premier League yang konsisten dilepas begitu saja tanpa pertarungan harga?"
Federasi sepak bola Inggris (FA) belum merespons isu ini secara resmi. Tapi sumber dari internal klub menyebutkan, “Tidak ada pelanggaran hukum. Hanya keputusan strategis.” Jawaban yang justru membuka ruang spekulasi lebih besar.
Situasi ini mirip dengan beberapa kasus transfer “murah” di masa lalu yang akhirnya diselidiki karena ada potensi konflik kepentingan atau praktik "pembukuan kreatif".
Meski belum ada laporan resmi, perbedaan antara harga pasar yang dipublikasikan dan angka transfer aktual bisa membuka investigasi lebih lanjut dari otoritas liga maupun pihak regulator.
Milan boleh berpesta. Tapi di Inggris, suara sumbang mulai terdengar. Apakah ini hanya manuver transfer biasa? Atau ada “rahasia” yang sengaja ditutup rapat oleh Brighton?
Sejauh ini, tidak ada klarifikasi resmi dari pihak klub. Tapi jika situasi ini berlanjut dan memicu efek domino di bursa transfer, kasus Estupiñán bisa jadi titik awal sorotan tajam terhadap transparansi sistem jual beli pemain di Premier League. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni