RADARTUBAN – Nama Alessandro Del Piero bukan sekadar legenda di mata tifosi Juventus.
Bahkan, bagi pelatih segarang Fabio Capello yang dikenal tak mengenal kompromi, Alex tetaplah sosok yang membuatnya berat hati mengambil keputusan ekstrem—seperti menempatkannya di bangku cadangan.
Dalam wawancara terbaru yang dikutip dari @FootballItalia, Capello kembali mengenang masa-masa kebersamaannya dengan sang ikon Juventus tersebut.
Pelatih yang dijuluki Don Fabio itu tak ragu menyebut Del Piero sebagai “pemain langka yang memiliki kualitas tinggi dan layak disebut juara sejati.”
“Saya percaya kepada sang juara, dan Alex adalah sang juara,” ujar Capello, penuh respek.
“Del Piero adalah pemain sederhana, tapi dengan kualitas yang tinggi. Ia pantas mendapatkan pencapaian dan rekor dalam kariernya. Layak disebut Il Vero Campione—sang juara sejati,” sambungnya lagi.
Meski pada era Capello (2004–2006) Del Piero sempat mengalami pasang surut posisi starter—terkadang kalah bersaing dengan nama-nama seperti Zlatan Ibrahimovic atau David Trezeguet—Capello tak menutupi dilema pribadinya.
“Kadang saya merasa tidak enak hati bila menaruh Alex di bangku cadangan,” ungkapnya.
Komentar Capello ini menambah panjang deretan pujian dari tokoh-tokoh besar sepak bola terhadap Del Piero, pemain yang sepanjang kariernya lebih banyak bicara dengan aksi, bukan kata-kata.
Loyalitas, ketenangan, dan kepiawaiannya dalam mencetak gol cantik membuat Del Piero menjadi pemain kesayangan publik Turin dan ikon Serie A.
Ia adalah simbol dari era Juventus yang tangguh, elegan, dan penuh kelas. Meski banyak pelatih datang dan pergi, hampir semua sepakat bahwa Del Piero adalah ‘aset emosional’ klub yang tak tergantikan.
Rekor dan Pencapaian Del Piero:
705 laga bersama Juventus
290 gol (terbanyak sepanjang sejarah klub)
6 Scudetto
1 Liga Champions (1996)
1 Piala Dunia (2006, bersama Timnas Italia)
Dikenal sebagai maestro tendangan bebas dan kapten abadi
Del Piero mungkin tak selalu jadi starter, tapi di hati para Juventini dan bahkan pelatihnya, ia selalu jadi yang utama.
Legenda sejati tak butuh validasi—karena sikap, skill, dan dedikasinya sudah bicara paling lantang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni