Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tekel Brutal yang Mengakhiri Karier Legenda! Marco van Basten Pensiun Dini di Usia 28 Tahun, FIFA Sampai Ubah Aturan

Tulus Widodo • Minggu, 27 Juli 2025 | 02:34 WIB
Legenda AC Milan Marco van Basten Pensiun di Usia 28
Legenda AC Milan Marco van Basten Pensiun di Usia 28

RADARTUBAN – Sebuah tragedi yang membekas dalam sejarah sepak bola dunia. Marco van Basten, salah satu striker terhebat sepanjang masa dan pemilik tiga Ballon d'Or, harus menyudahi kariernya secara tragis di usia 28 tahun.

Ia bukan sekadar berhenti bermain—Van Basten dipaksa pensiun akibat cedera parah usai menerima tekel horor yang nyaris mematahkan pergelangan kakinya!

Marco van Basten merupakan bagian dari generasi emas AC Milan era 1980-an hingga awal 1990-an.

Bersama duet maut Ruud Gullit dan Frank Rijkaard, Van Basten membawa Milan menaklukkan Eropa dan dunia.

Pria kelahiran Utrecht itu meraih Ballon d'Or tahun 1988, 1989, dan 1992—rekor yang sangat langka saat itu.

Namun semuanya berubah saat final Liga Champions 1993. Dalam laga kontra Marseille, Van Basten mendapat tekel keras dari belakang yang menghantam engkel kirinya.

Cedera itu bukan sekadar luka biasa—struktur tulang dan ligamen di pergelangan kakinya rusak parah.

Meski sempat menjalani tiga operasi dan proses pemulihan panjang, Van Basten tak pernah benar-benar pulih.

Pada tahun 1995, bintang Timnas Belanda itu resmi pensiun di usia 28 tahun, usia yang seharusnya masih jadi masa keemasan striker top.

Dalam wawancara emosional, Van Basten mengungkapkan bagaimana hidupnya berubah sejak insiden itu.

"Bukan hanya karier saya yang berhenti, tapi kehidupan saya juga berubah. Saya tidak bisa lari. Bahkan berjalan pun membuat saya menderita,” katanya.

Van Basten bahkan absen total dari sepak bola selama hampir 10 tahun, tak bisa menonton pertandingan karena rasa trauma yang dalam.

Baru setelah bertahun-tahun, ia kembali ke dunia sepak bola sebagai pelatih dan penasihat teknis FIFA.

Insiden mengerikan yang menimpa Van Basten menjadi titik balik bagi FIFA. Pada awal 1990-an, tekel dari belakang masih dianggap sah asal mengenai bola.

Namun karena banyaknya cedera parah akibat tekel seperti ini—termasuk yang dialami Van Basten—FIFA akhirnya merevisi aturan.

Mulai 1998, tekel dari belakang yang membahayakan keselamatan pemain dinyatakan sebagai pelanggaran berat, bahkan bisa langsung diganjar kartu merah. Ini menjadi warisan tak langsung dari tragedi Van Basten.

Bukan Sekadar Legenda, Tapi Revolusioner

Meski kariernya singkat, warisan Van Basten tak akan pernah hilang. Gol voli indahnya di final Euro 1988 ke gawang Uni Soviet, gol solo run lawan IFK Göteborg, dan hattrick ke gawang Inggris tetap dikenang sebagai momen emas.

Ia adalah bukti bahwa kualitas tak harus diukur dari durasi karier. Bahkan dalam waktu singkat, Van Basten sukses menulis namanya dalam sejarah sebagai salah satu striker terhebat sepanjang masa.

Kisah Marco van Basten adalah pengingat pahit bahwa sepak bola, seindah apa pun, tetap punya sisi kelam. Dan dari luka itulah perubahan besar lahir—demi keselamatan dan masa depan para pemain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#marco van basten pensiun #legenda ac milan #tekel #final Liga Champions #Marco Van Basten #FIFA ubah aturan tekel #AC Milan #FIFA #cedera parah #pensiun #timnas belanda