RADARTUBAN - Serie A, liga kasta tertinggi Italia yang dulu identik dengan gengsi lokal dan klub-klub keluarga tradisional, kini berubah wajah.
Lebih dari setengah tim peserta musim 2025/26 dikuasai oleh investor asing.
Bahkan, ada nama kejutan dari Indonesia: keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum, yang kini mengendalikan Como 1907.
Transformasi besar-besaran terjadi di tubuh Serie A dalam beberapa tahun terakhir.
Invasi pemodal asing, terutama dari Amerika Serikat, secara perlahan namun pasti mengambil alih kepemilikan klub-klub elite Italia.
Dari 20 tim Serie A musim 2025/26, setidaknya 11 di antaranya telah jatuh ke tangan pemilik luar negeri.
Langkah ini mencerminkan tren globalisasi sepak bola, di mana klub bukan sekadar warisan budaya, tapi aset investasi bernilai tinggi.
Italia yang dulu dikenal ketat dalam mempertahankan identitas klubnya, kini justru menjadi salah satu liga dengan proporsi kepemilikan asing tertinggi di Eropa.
Investor asal Amerika Serikat menjadi kelompok paling agresif dalam mengakuisisi klub-klub Serie A.
Tercatat ada RedBird Capital (pemilik AC Milan), Oaktree (Inter Milan), Rocco Commisso (Fiorentina), Dan Friedkin (AS Roma), Joey Saputo (Bologna), Presidio Investors (Venezia/musim lalu Serie A kini degradasi ke Serie B), Alexander Knaster (Pisa SC), dan Kyle Krause (Parma).
Selain nama-nama tersebut, Stephen Pagliuca asal AS juga menjadi bagian dari kepemilikan Atalanta.
Tak hanya mengucurkan dana segar, mereka juga membawa pendekatan bisnis modern ke dalam pengelolaan klub.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah keberadaan bendera Indonesia di antara deretan pemilik asing.
Adalah keluarga Hartono, konglomerat asal Kudus, pemilik Grup Djarum dan BCA, yang kini menjadi pemilik Como 1907.
Mereka tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia, dan melalui tangan mereka, Como mulai bergerak serius membangun ulang struktur klub dari nol.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pengusaha Indonesia sudah mulai berani melirik investasi di panggung besar Eropa, bukan hanya sekadar jadi sponsor atau investor minoritas.
Masuknya investor asing membawa pengaruh besar terhadap profesionalisme klub, kualitas fasilitas, hingga daya saing di kompetisi Eropa.
Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran hilangnya identitas lokal, serta risiko klub dijadikan sekadar alat bisnis semata.
Fakta Singkat:
10 dari 20 klub Serie A 2025/26 dimiliki investor Amerika
Como jadi klub Italia pertama milik orang Indonesia
Investasi asing dorong modernisasi manajemen klub
Potensi konflik antara nilai bisnis vs tradisi lokal
Fenomena ini tak bisa dihindari. Serie A, seperti liga-liga top Eropa lainnya, telah menjadi ladang investasi strategis bagi konglomerat global. Italia tak lagi hanya milik orang Italia.
Dan kini, Indonesia pun punya kursi di meja elit sepak bola Eropa. Como 1907 adalah awal. Siapa selanjutnya? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni