Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mauro Tassotti, Asisten Abadi AC Milan: Legenda Setia yang Tak Pernah Dipercaya Jadi Pelatih Utama

Tulus Widodo • Selasa, 29 Juli 2025 | 18:41 WIB
Meski setia dan paham Milan luar dalam, Mauro Tassotti hanya dikenal sebagai asisten abadi Rossoneri.
Meski setia dan paham Milan luar dalam, Mauro Tassotti hanya dikenal sebagai asisten abadi Rossoneri.

RADARTUBAN - Meski tiga dekade mengabdi dan mengenal Milan luar dalam, Mauro Tassotti tak pernah mendapat kepercayaan menjadi pelatih kepala.

Ini kisah tragis tentang loyalitas yang tak pernah cukup di sepak bola modern.

Nama Mauro Tassotti mungkin tak sering muncul di headline atau diburu media. Tapi bagi mereka yang mengenal sejarah AC Milan, sosoknya adalah satu bagian penting dalam puzzle kejayaan Rossoneri.

Tassotti adalah bek tangguh yang pernah mengangkat trofi-trofi besar bersama Franco Baresi, Paolo Maldini, dan trio Belanda legendaris.

Namun di balik reputasinya sebagai pemain ikonik, ada kisah pahit yang tak pernah selesai: Tassotti nyaris tak pernah diberi panggung sebagai pelatih utama.

Sudah lebih dari tiga dekade pria kelahiran Januari 1960 itu mengabdi. Tapi sepanjang itu pula Tassotti hanya dikenal sebagai “asisten abadi”.

Setia di kursi cadangan, merancang taktik, mengenal pemain dari dekat, tapi tak pernah diberi amanah sebagai arsitek utama.

Sejak pensiun sebagai pemain, Tassotti langsung menekuni dunia kepelatihan.

Sejak 2001, namanya konsisten muncul di jajaran staf pelatih Milan. Pemain yang mencatat 429 penampilan bersama Milan itu menjadi tangan kanan dari Carlo Ancelotti, Leonardo, Massimiliano Allegri, Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, hingga Sinisa Mihajlovic. Perannya jelas: membangun strategi, memahami karakter tim, dan menyatu dengan kultur klub.

Namun setiap kali kursi pelatih utama kosong, namanya nyaris tak pernah masuk radar manajemen.

Bahkan saat Milan butuh caretaker pasca kepergian Leonardo di 2009, Tassotti hanya duduk di kursi pelatih selama satu hari—rekor caretaker tersingkat dalam sejarah klub.

"Dia tahu Milan luar dalam. Tapi manajemen seolah tak pernah percaya ia bisa memimpin," ujar Luca Serafini, jurnalis senior Italia, dalam sebuah tayangan dokumenter Milan Channel.

Punya Semua Kriteria, Tapi Tak Pernah Dianggap Siap

Jika loyalitas dan pemahaman struktur klub adalah tolok ukur, Tassotti nyaris sempurna. Pria kelahiran Roma 65 tahun silam itu tahu seperti apa atmosfer Milanello, ia paham jalur pembinaan dari akademi ke tim senior.

Dan yang terpenting, pemain yang semasa aktif mencatatkan 18 caps di Timnas Italia semua level itu adalah bagian dari era kejayaan yang masih dibanggakan Milan hingga hari ini.

Namun ironisnya, justru karena “terlalu lama di dalam”, Tassotti dianggap tidak membawa sudut pandang baru.

Dalam dunia yang haus akan gebrakan, nama-nama seperti Seedorf, Gattuso, atau Brocchi lebih mudah menjual kepada publik dan sponsor—meski belum tentu lebih paham soal DNA klub dibanding Tassotti.

Yang paling menyakitkan, ketika Milan membentuk proyek “Milan Futuro”—sebuah inisiatif untuk mengembangkan skuad muda jembatan ke tim utama—Tassotti tetap tak dipilih sebagai pelatih utama.

Pemain yang membela Milan periode 1980-1997 itu kembali duduk di kursi asisten, seperti biasa. Sebuah ironi ketika para juniornya malah diberi kesempatan yang tak pernah datang padanya.

Tassotti tidak pernah membuat gaduh. Pria yang semasa aktif bermain sebagai bek itu tidak menggugat. Ia tidak pergi membawa dendam.

Bahkan ketika Milan tak lagi memanggil, ia tetap berkecimpung di sepak bola, termasuk jadi asisten pelatih Timnas Ukraina saat dipimpin Andriy Shevchenko.

Tapi sorotan utama tak pernah benar-benar kembali padanya.

Sepak bola modern sering kali tidak adil untuk sosok seperti Tassotti. Ia punya dedikasi, tapi tidak karismatik. Ia loyal, tapi tidak “eksentrik”.

Dia bukan bintang Instagram, bukan headline clickbait. Dia hanyalah Mauro Tassotti—salah satu pelayan paling setia dalam sejarah Milan, tapi tak pernah cukup menjual untuk jadi tokoh utama. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Mauro Tassotti #carlo ancelotti #AC Milan #pelatih #leonardo